Bolos
adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang terjadi di sekolah. Sebagai
seorang guru, menemui kelas yang siswanya sering bolos tentulah mengesalkan.
Ada letupan merasa tak dihargai.

Dalam
posisi guru yang niatnya baik ingin memberi ilmu, yang terjadi justru si murid
malah mengabaikannya. 

Ibarat cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sakit. Marah?
Tentu hal yang wajar. Namun, jangan buru-buru melampiaskannya.

Sebelum
memberikan treatment, selidiki dulu
alasannya. Jangan sampai memberi obat tanpa melakukan diagnosa. 

Jika anda
dokter, maka yang demikian akan menyebabkan malpraktik. Kepercayaan orang akan
hilang pada diri anda. Untung saja anda guru. Bukan dokter.

Lantas,
mengapa sih siswa-siswa itu bolos?

PERTAMA,
MALAS BELAJAR

Malas
belajar adalah penyebab yang paling lazim. Jangankan anak-anak sekolah, orang
dewasa saja sering merasa malas belajar. Bahkan, malasnya bisa lebih parah dari
anak-anak sekolah. 

Pada umumnya, orang beranggapan bahwa berhenti belajar sah-sah
saja manakala lulus sekolah. Ketika sudah bekerja, maka berhentilah tugas untuk
belajar. Malaslah yang terjadi.

Bolehkah
anak yang malas belajar dihukum? Boleh-boleh saja. Hukuman sebagai penanda yang
mengingatkan mereka bahwa prilakunya salah. 

Hanya saja, hukuman hanya sebatas
menyadarkan bahwa tindakannya salah. Sepengamatan saya sih, ketika anak dihukum
ia sadar dan menunduk. Tapi besoknya, ia bisa lupa.

Maka
memang belum tentu mengubah anak tersebut jadi semangat belajar. Maka hukuman
mesti disertai juga dorongan supaya semangat belajar. Bangun motivasinya. Pupuk
alasan mengapa anak mesti semangat belajar.

KEDUA,
DI SEKOLAH TIDAK DAPAT APA-APA.

Selain
malas belajar, ada juga kasus anak malas ke sekolah karena merasa tidak dapat
apa-apa. Anak-anak yang mulanya semangat belajar, lama kelamaan dibuat malas
dengan kelakukan gurunya di sekolah yang jarak masuk kelas.

Kadang-kadang
tak datang dan tak memberi tugas, namun dilain waktu member tugas namun
tugasnya cenderung kurang berfaedah. Sekalinya datang juga nampak tak membawa
kesan semangat. 

Hingga ada anak yang akhirnya berfikir, sekolah dan tak sekolah
tak mendapat apa-apa. Sekali masuk, mengajar dengan menjemukan. Tak lebih baik
dari cara google memberikan pengetahuan.

Anak
yang malas di sekolah karena hal ini sebetulnya kurang pas jika diberi hukuman.
Malah guru yang mestinya dihukum karena tak memberikan kultur belajar yang baik
di sekolah. Sehingga anak tak mendapatkan kenikmatan belajar di sekolah.

KETIGA,
MASALAH DENGAN TEMAN

Di
sekolah, antar siswa bertemu setiap hari. Ketika seorang siswa punya masalah
dengan temannya, maka ia tak bisa lari. Ia harus terus bertemu. Lingkungan
menuntutnya seperti itu. Benci, kesal, atau sebal tak bisa menghilangkan
kewajiban untuk tetap datang ke sekolah.

Namun
nyatanya, tak semua siswa dapat gentle untuk
man to man dengan orang yang benci.
Lantas ia memilih jalan untuk lari dan berusaha menghindar dari orang yang
memiliki masalah dengannya. Bolospun akhirnya menjadi pilihannya.

Untuk
urusan yang satu ini, mengoreknya agak sulit. Tak semua siswa mau terbuka
dengan gurunya. Maka diperlukan pedndekatan lebih dari wali kelas atau guru
bimbingan konseling. 

Memberikan sanksi pada anak yang sering bolos dalam kasus
ini sah-sah saja, namun mesti dibarengi untuk kemauan pihak ketiga, dalam hal
ini guru, untuk terujun menengahi. Hal ini agar aktivitas bolosnya tak terus
berulang.

KEEMPAT,
MASALAH DENGAN ORANGTUA

Kondusif
tidaknya kondisi rumah juga kerap membuat siswa jadi rajin bolos. Termasuk,
jikalau seorang siswa punya masalah dengan orangtuanya. Rasa kecewa anak
terhadap apa yang dilakukan orangtuanya kerap dilampiaskan anak dengan berbuat
buruk kepada orangtua. Misalnya dengan tak serius dalam sekolah.

Bolos
menjadi bentuk protes. Persis seperti buruh pabrik yang mogok kerja gara-gara
gajinya tidak dibayarkan sebagaimana mestinya.

Memberi
sanksi pada siswa semacam ini agak sulit untuk dapat memberikan efek jera.
Perlu kerjasama antara orangtua dan guru. Atau setidaknya, guru menjadi
pengganti dalam tanda kutip bagi orangtua.

Itulah
beberapa faktor yang umumnya terdeteksi. Beda hasil diagnosa, maka beda juga treatmentnya. Mudah-mudahan siswa kita
soleh-solehah ya.

 

 

 

 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like