Debat
sebetulnya bisa terjadi dalam dua kondisi, yakni kondisi yang sifatnya formal
dan yang sifatnya nonformal.

Debat
formal adalah debat yang penyelenggarannya terencana dan diatur. Memiliki
rangkaian penyelenggaraan yang tertib dan dalam pelaksanaannya melibatkan semua
unsur debat.

Sedangkan
debat informal adalah debat yang penyelenggaraannya tidak terencana dan sangat
mungkin terjadi secara spontan serta mendadak. Jika kalian renungkan, mungkin
saja secara tak langsung sebetulnya kalian sering melakukan debat jenis ini.

Misalnya
ketika kalian makan bubur bersama teman kalian, kalian beradu pendapat soal
bagaimana sebaiknya bubur itu disantap. Apakah di aduk dan atau dibiarkan
cantik sebagaimana sajian dari mamang bubur?

Atau
ketika kalian sedang menonton film spongebob,
lalu datang ibu kalian ingin menonton film suara hati seorang istri, kalian berdebat tentang film mana yang
lebih bagus untuk ditonton keluarga diantara keduanya.

Dalam
debat informal, memang tak banyak aturan. Termasuk, dalam hal berbahasa. Kalian
bebas saja mau menggunakan bahasa apa dan bagaimana cara menyampaikannya. Tidak
ada yang akan menyalahkan.

Namun,
biasanya debat informal ini rentan berujung tanpa penyelesaian. Menggantung.
Tidak jelas mana yang menang dan kalah, tidak jelas juga mana yang benar dan
salah. Bahkan bisa jadi berujung luka setelah debat itu selesai.

Nah,
berbeda dengan debat formal. Debat formal umumnya terencana dan terstruktur penyelenggarannya.
Dalam debat yang formal, biasanya bahasa yang digunakan juga tidak sembarang.
Tidak bisa asal jeplak. Tidak bisa asal ngomong.

Ragam
bahasa debat yang digunakan adalah ragam
bahasa debat ilmiah
. Ragam bahasa ini memiliki karakteristik tertentu.
Berikut ciri dari ragam bahasa debat
ilmiah
:

Bahasa
baku


Bahasa
yang digunakan haruslah bahasa baku. Apa itu bahasa baku? Bahasa baku adalah
bahasa yang sesuai dengan standar yang disepakati dalam tata ejaan dan tata
bahasa Indonesia. Baik itu dalam pembentukan kata, frasa, klausa, kalimat,
hingga paragrafnya.

Misalnya,
dalam menyampaikan kata-kata, kata yang digunakan haruslah kata yang baku. Kata
baku adalah kata yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalian tak
bisa menyampaikan kata-kata yang tidak dikenal oleh kamus.

Menyampaikan
kata seperti ‘santuy’ jelas adalah satu diantaranya. Kata ‘santuy’ tidak akan
ditemukan dalam kamus. Adapun yang akan kalian temukan adalah kata ‘santai’. Begitu
juga kata ‘otewe’. Kalian tidak akan menemukannya.

Kata
yang sebelumnya tidak baku, mungkin saja menjadi baku. Tentu saja bukan oleh
kalian. 

Sekalipun kalian anak sultan,
kalian tidak dapat melakukannya. Akan tetapi, kata dapat dibakukan oleh para
ahli bahasa Indonesia yang berwenang memutuskan.

Faktual


Bahasa
yang dikeluarkan mesti bersifat faktual. Artinya, berkesesuaian dengan fakta.
Hal ini karena debat merupakan aktifitas beradu pendapat yang didasarkan pada
argument-argumen.

Argumen
yang baik adalah argumen yang meyakinkan. Agar argumen itu dapat meyakinkan dan
membuktikan kebenaran pendapat yang disampaikan, maka argument tersebut harus
mengandung kebenaran. Memiliki sifat faktual.

Misalnya,
berisi data-data yang sumber datanya diambil dari sumber-sumber yang
terpercaya. Di era sekarang ini, banyak
sekali informasi-informasi yang berseliweran. Baik informasi yang datang dari
mulut ke mulut, maupun yang ddidapat melalui media internet. Namun, tak semua
data mengandung kebenaran. Ada saja informasi hoax yang mesti diwaspadai.

Untuk
itu, ketika berdebat, dalam menyusun argumen, selain mencari data-data, kita
juga perlu melakukan klarifikasi. Dalam istilah agama, ini disebut dengan tabayyun.

Sehingga
kita bisa memastikan, bahwa apa yang kita keluarkan dari mulut kita semuanya
berisi kebenaran.

Kalimat
efektif


Dalam
debat, bahasa yang disampaikan juga sebaiknya memperhatikan keefektifan
kalimat. Kalimat efektif adalah kalimat yang tepat guna.

Kalimat
efektif bisa dilihat dari beberapa sisi. Pertama, memiliki makna yang tidak
bersayap. Maknanya tunggal. Kedua, kalimat yang disampaikan to the point. Tidak berputar-putar
dengan kata-kata yang tidak perlu disampaikan.

Hal
ini agar lawan debat dapat menangkap makna secara benar dan tidak terjadi apa
yang disebut miskomunikasi. Sehingga proses debat bisa berjalan dengan lancer
hingga selesai.


Kata
denotatif


Kata
denotatif adalah kata yang memiliki makna sebenarnya. Lawan dari kata denotatif
adalah kata yang bermakna konotatif, atau kata yang tidak memiliki makna
sebenarnya.

Kata
konotatif biasa kita temukan di dalam puisi. Kata-kata semacam ini bisa berupa
ungkapan atau kata-kata yang mengandung majas.

Dalam
debat, kita tak sebaiknya mengeluarkan kata-kata yang konotatif. Hal ini karena
ukuran baik dan buruknya kualitas debat berbeda dengan ukuran baik dan buruknya
kualitas puisi. Dalam debat, yang terpenting bukan kata-kata melankolis
mengandung majas yang bikin cewek-cewek meleleh. Namun, ketepatan, kelugasan,
dan kekuatan argumen yang didahulukan.
**

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like