Dalam
posisi sebagai pendidik, entah itu sebagai guru disekolah atau orangtua
dirumah, lazim kita mendapati anak-anak yang kita didik bertindak jauh dari apa
yang diharapkan.

Anak-anak
yang kita hadapi tak selalu nurut. Bahkan, seringkali ada yang bikin kesal
karena alih-alih nurut, yang ada justru anak-anak itu membangkang dan bersikap
resisten. Akhirnya, tak sedikit diantara para pendidik yang tak bisa menahan
emosinya dan memberikan hukuman fisik.

Tak
sedikit peristiwa semacam ini viral dan menuai pro-kontra di tengah netizen.
Bicara pro-kontra memang tak ada habisnya. Namun sebagai orang beragama,
idealnya kita kembalikan pada aturan agama.

Dalam
hal ini, agama islam telah memberikan perhatian pada persoalan ini. Ada
beberapa catatan terkait dengan pemberian hukuman fisik ini. Apa saja?

Pertama,
hukuman fisik baru boleh dilakukan pada anak usia di atas sepuluh tahun.


Rasulullah
saw. bersabda: “Perintahkan anak kalian
untuk melakukan shalat jika mereka sudah menginjak usia tujuh tahun. Dan
apabila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia jika sampai mengabaikannya,”
(HR
Abu Daud dan Tirmidzi)

Hadits
diatas jelas bisa dipahami redaksinya, bahwa memberikan hukuman fisik
(contohnya memukul) baru diperbolehkan manakala anak menginjak usia diatas
sepuluh tahun.

Maka
alangkah sontoloyonya jika ada pendidikan yang mudah sekali menggunakan
cara-cara fisik kepada anak kecil yang masih ingusan, atau bahkan masih balita.
Prilaku tersebut layak dikategorikan kezaliman.

Kedua,
anak harus dipastikan telah dikenalkan dengan ilmunya.


Masih
dalam hadits yang sama, kita bisa mengambil pelajaran bahwa sebelum genap
sepuluh tahun, ada anjuran agar anak diperkenalkan dengan perintah solat pada
usia tujuh tahun, atau tiga tahun sebelumnya.

Bisa
diambil pelajaran bahwa tak etis jika sebagai pendidik kita menggunakan
cara-cara fisik sebelum kita mengajarkan hal yang ideal dan semestinya pada
rentang waktu sebelumnya.

Ketika
anak didik kita membangkang, sebelumnya harus dipastikan, sudahkah kita menempu
cara-cara halus dengan memberi pengertian dan pelajaran tentang apa yang kita
harapkan? Jika belum, jangan dulu emosi ketika anak didik tak sesuai harapan.

Sesungguhnya,
menjadi tugas kita sebagai pendidiklah untuk memastikan hal tersebut sampai.

Ketiga,
hukuman fisik hanya pada perbuatan yang prinsipil.


Masih
dari hadits yang sama, kita bisa menarik pelajaran bahwa hukuman fisik
dibolehkan untuk hal yang prinsipil. Dalam konteks hadits tersebut, dicontohkan
bahwa hukuman fisik itu bagi anak yang tidak solat.

Dalam
Islam, solat adalah hal yang prinsip. Ia disebut sebagai tiang agama, bahkan
termasuk rukun Islam. Mengingat tingkat urgensinya, maka dapat dipahami jika
cara-cara fisik boleh dilakukan dalam rangka membiaskan terlaksananya solat
oleh setiap individu dalam sepanjang hayatnya.

Hal
mana yang prinsip dan tidak prinsip selain solat, barangkali bisa
diperdebatkan. Tapi untuk hal-hal yang jelas tidak prinsip tentu banyak
contohnya. Anak malas mandi, anak susah gosok gigi, anak mau jajan permen
terus, hal hal tersebut sepertinya kita sepakat bukan hal yang prinsip.

Walhasil,
tak layak menggunakan cara-cara fisik dalam menjalankan langkah kuratifnya.

Tapi
berlepas dari itu semua, tentu saja selama masih bisa menggunakan cara yang
lebih halus, maka sebagiknya itu saja yang digunakan. Ada berbagai hukuman
alternative yang lebih baik ketimbang cara-cara fisik.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like