Tips Agar Pelajar Tetap Semangat Belajar Meski Tak Ke Sekolah

Wabah
covid-19 menimbulkan berbagai dampak. Diantaranya memaksa
munculnya’aturan-aturan’ baru bagi berbagai dunia. Mulai dari dunia ekonomi,
sosial, politik, juga pendidikan.

Mungkin
hanya satu dunia yang tidak terdampak, yakni dunia lain.

Dalam
dunia pendidikan, pelajar yang tadinya belajar di sekolah, kini mau tak mau
harus belajar dari rumah. Banyak yang sedih karena aturan ini.

Hal
yang paling menyedihkan, terjadi banyaknya pemotongan uang jajan yang diberikan
orangtua. Bahkan yang lebih tragis, ada yang dipangkas habis hingga tak dapat
pemasukan sama sekali.

Tentu
saja hal tersebut adalah sesuatu yang berat. Makanya, banyak diantara pelajar
yang akhirnya rindu berangkat sekolah. Kangen katanya. Ada yang kangen belajar,
ada yang kangen mabar, ada juga yang kangen jajan di warung.

Tapi,
wabah ini adalah sesuatu yang masuk dalam ranah qadha’ dari Sang Maha Kuasa. Tidak bisa ditolak. Harus diterima.
Tinggal, bagaimana kita menyesuaikannya?

Satu
hal yang menjadikan sebagian pelajar merasa nasibnya tragis, meskipun uang
jajan dipotong, namun tugas-tugas sekolah masih jalan terus. Pelajar harus
tetap belajar.

Yaiyalah,
kalau kalian mengaku pelajar tapi berhenti belajar, maka kalian tak berhak menyandang
status pelajar. Cocoknya kalian disebut pensiuan pelajar atau almarhum pelajar.

Nah,
tapi memang belajar dirumah itu penuh tantangan. Jika di sekolah biasanya
rajin, ketika di rumah bisa saja malah jadi malas. Sebaliknya, jika di sekolah
biasanya malas, ketika di rumah bisa jadi tambah-tambah tidak rajin. Pusing kan?

Berikut
ini Mbah coba berikan sedikit tips supaya tetap semangat belajar meski
belajarnya harus dirumah. Cekibrot.

Pertama,
bangun persepsi, ‘di rumah bukan berarti libur’

Ini
penting. Jangan sampai ada anggapan bahwa ketika sekarang kalian sebagai
pelajar dirumahkan berarti kalian itu diliburkan. Bukan, bukan seperti itu.
Kalian dirumahkan itu maksudnya diminta belajar dari rumah.

Jika
dalam persepsi kalian dirumahkan selama berbulan-bulan itu adalah liburan, maka
dijamin, setiap hari bawaannya males. Bawaannya ingin melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang biasanya kalian lakukan ketika liburan.

Santuy-santuy, lenjeh-lenjeh, gak mandi, gak sikat gigi, main game sepanjang hari, dan kegiatan-kegiatan lain yang umumnya unfaedah atau minim faedah.

Kedua,
bangun sebelum pagi (subuh)

Ini
penting. Meski belajar di rumah mungkin gak terikat waktu, itu gak berarti
kalian bebas sesukanya bangun dari tidur yang lelap. Bagaimanapun, harus
diuapayakan bangunnya tetap subuh. Jam setengah 6 itu kategorinya udah
kesiangan lho.

Bangun
sepagi mungkin, menghirup udara yang segar, memberikan banyak sekali manfaat.
Dikutip dari rubrik lifestyle di kompas.com, setidaknya ada delapan
manfaat bangun subuh. Diantaranya meningkatkan prouktivitas, meningkatkan
prestasi, dan membuat kita jadi lebih mudah berkonsentrasi.

Ketiga,
jangan tidur lagi setelah bangun subuh

Ini
penting. Jangan sampai usaha susah payah untuk bangun subuh itu dipatahkan oleh
tidur lagi setelah subuh. Ini sangat disayangkan.

Salah
seorang ulama, yakni Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Tidur
setelah subuh mencegah rezeki, karena waktu subuh adalah waktu makhluk mencari
rezeki mereka dan waktu dibagikannya rezeki.”

Orang
yang biasanya tidur lagi setelah bangun subuh dan solat subuh, bawaannya akan
sama dengan yang bangun siang. Sama-sama males. Bahkan bisa memicu kebablasan.

Bangun
jam lima, solat subuh, tidur lagi, terbangun jam tujuh, tidur lagi, terbangun
jam sembilan, tidur lagi, hingga baru benar-benar bangun jam sebelas atau dua
belas siang.

Akhirnya,
banyak waktu yang terbuang. Waktu yang bisa dipakai untuk belajar, hangus
terpakai untuk tidur yang tak dibutuhkan. FYI, kebanyakan tidur bukan bikin
sehat, tapi bikin pusing.

Keempat.
buat target harian.

Target.
Target penting untuk memberikan bensin bagi tubuh kalian. Dengan adanya target,
kalian akan lebih terpacu dalam mengerjakan sesuatu. Sebaliknya, tanpa membuat
target, biasanya pekerjaan akan cenderung di undur-undur, bahkan parahnya bisa
sampai tak terlaksana.

Target
itu bisa dibuat sendiri, tapi bisa juga diberikan orang lain.

Ketika
kalian terbangun di subuh hari, kalian bisa susun, pada hari itu, hal apa saja
yang kalian bereskan? Berapa lama kalian akan membereskannya? Pada pukul berapa
kalian akan memulainya? Bagaimana cara kalian menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan
tersebut? Dalam proses pengerjaannya, apa dan siapa saja sosok yang dibutuhkan
untuk mempermudahnya?

Semuanya
penting dicapai sebagai wujud seriusnya kalian mengggapai target.

Kelima,
ajak orang lain sebagai partner.

Selama
kalian masih pelajar, sebaiknya janganlah dulu muluk-muluk mikirin partner hidup yang akan mendampingi
kalian dipelaminan. Kejauhan dan hanya akan membuat kalian tenggelam dalam angan-angan
penuh ketidakpastian.

Lebih
baik, kalian temukan partner yang
dapat membuat kalian lebih semangat dalam belajar. Partner yang bisa mengingatkan kalian dikala malas dan membersamai
kalian dikala rajin.

Berjuang
sendiri itu berat. Konon, domba yang terpisah dari rombongan akan lebih mudah
diterkam serigala. Maka kalian tak bisa sendirian saja ketika memiliki niat
untuk melakukan hal-hal yang baik. Kalian butuh partner.

Maka,
temukanlah partner itu. Teman kalian
yang kira-kira cocok untuk menjadi teman belajar kalian.  Frekuensinya sama.

Jika
kalian tak dapatkan itu diantara teman-teman kalian, kalian bisa juga jadikan
orangtua kalian dirumah sebagai partner. Tak
ada salahnya jika mereka tak sibuk, minta bantuan untuk sama-sama belajar.

Jangan
lupa kalian juga harus balas jasanya. Dengan bantu meringangkan pekerjaan rumah
tangganya. Mulai dari menyapu, mengepel, masak, hingga cuci piring.

**

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like