Setiap guru, harus menjadi guru yang baik untuk siswanya.

Matapendidikan.com,-
Setiap guru, sudah selayaknya berusaha untuk menjadi guru yang baik
dihadapan siswanya. Ini harus menjadi cita-cita seluruh guru pada umumnya.

Ketika seorang guru dianggap baik, maka siswanya akan menaruh
kepercayaan terhadapnya. Siswa akan mudah menerima apa-apa yang datang dari
anda selaku gurunya.

Sebaliknya, ketika sebagai guru anda dianggap buruk oleh
siswa, anda otomatis tak memiliki kepercayaan dihadapannya. Apa yang anda
sampaikan tidak mudah untuk siswa percayai, bahkan siswa akan menganggap anda
hanya membual saja.

Memang betul, no body
is perfect.
Tidak ada yang sempurna. Tentu saja hal buruk selalu berpotensi
menyertai prilaku anda. Namun, adalah suatu keharusan bagi anda untuk menjadi
pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Masalah yang terjadi, kadangkala kita sebagai guru merasa
sudah menjadi guru yang baik. Namun, dalam pandangan siswa justru sebaliknya.

Untuk mengatasi masalah ini, Alex Strike, sorang penulis busyteacher.org ,telah menghimpun saran
dari para siswa kepada guru. Saran-saran tersebut berupa poin-poin yang dalam
sudut pandang siswa adalah sesuatu yang baik jika dimiliki oleh seorang guru.

Apa saja itu? mari kita ulas satu persatu dengan pembahasaan
yang saya modifikasi sebagian agar lebih kontekstual.

Pertama,
guru yang baik adalah guru yang asertif

Apa yang dimaksud dengan asertif? Kata ini mungkin asing bagi
sebagian dari anda. Maka biarkan saya jelaskan sedikit.

Asertif di KBBI artinya adalah tegas. Namun, makna yang lebih
dalam lagi, asertif adalah sikap pertengahan diantara agresif dan pasif. Tidak mudah
menunjukan sikap ingin dominan, namun tidak juga lama bersembunyi dalam diam.

Anda tau momentum kapan anda sebaiknya melakukan sesuatu. Ketika
siswa anda tidak mengerjakan tugas, anda tidak terlalu agresif dengan mendebat
serta memarahi mereka. Namun, tidak juga berarti diam dan tidak memberikan treatment apapun.

Anda mungkin bisa memposisikan diri sebagai orangtua. Lebih bijak
dan tak langsung menghakimi. Tak perlu buru-buru memarahinya ketika melakukan
kesalahan, namun tanyakan dulu alasan dengan penuh kasih sayang sebelum memberi
keputusan.

Kedua, guru
yang menjadi teman bagi siswa, tapi tak melangkah terlalu jauh


Untuk mengambil hati siswa, ada sebagian guru yang
memposisikan diri seolah teman sebayanya. Dalam batas tertentu, ini wajar saja.

Namun ternyata, berdasarkan saran yang dihimpun oleh busy teacher, jika guru terlalu jauh
dalam memposisikan diri sebagai teman bagi siswa, itu akan dianggap sesuatu
yang buruk bagi siswa.

Untuk memposisikan diri sebagai teman siswa, guru tak perlu
terlalu jauh dengan menyamakan cara berbahasa. Misalnya berkomunikasi dengan
menggunakan seluruh bahasa gaul yang bisa digunakan siswa, atau tertawa
terbahak-bahak sambil bersama siswa hingga siswa melihat air ludah anda muncrat
kemana-mana.

Alih-alih siswa menjadi percaya kepada anda, mereka malah
berpotensi menganggap anda guru yang tak berwibawa dan professional. Pembicaraan
anda dikelas sangat mungkin tidak lagi dianggap serius.

Ketiga, guru
yang menjadikan pelajaran yang disampaikan ‘nyambung’ dengan kehidupan siswa


Hal yang juga penting dan menjadi saran bagi siswa untuk
guru, adalah guru sebaiknya menyambung setiap pelajaran yang disampaikannya
dengan kehidupan yang dekat dengan siswa.

Ini mungkin yang sering disebut contextual learning. Mengoneksikan pelajaran agar sesuai dengan
konteks kehidupan orang yang sedang belajar.

Untuk dapat melakukan hal ini, guru tentu mesti menyelami
kehidupan siswa yang diajarinya di kelas. Apa yang sedang hits di tengah-tengah mereka, apa yang sedang mereka riuh bicarakan
ketika istirahat, dan sebagainya. Guru bisa memaknai kehidupan siswa dengan
perspektif mata ajar yang ia berikan dikelas.

Keempat, guru
yang memerhatikan dan menggunakan waktu dengan bijak


Anda juga perlu memperhatikan momentum yang pas dalam
menyampaikan apa yang perlu anda sampaikan. Perhatikan waktunya sebelum anda
berbicara sesuatu didepan siswa.

Misalnya, ketika di kelas, anda tak perlu menghabiskan waktu
terlalu banyak dengan memperdengarkan siswa tentang kehidupan anda sebagai
guru. Anda cerita masa muda anda yang hebat, cantik, dan sebagainya.

Atau lebih parah lagi anda curhat soal hutang anda, rumah
tangga anda, dan masalah-masalah anda diluar kelas.

Siswa yang baik datang ke sekolah untuk mendengarkan
pelajaran dari anda. Mereka akan menganggap waktunya habis sia-sia jika anda
terlalu banyak bicara soal kehidupan pribadi anda yang bahkan bisa jadi tak
relevan dan mengandung kebaikan sama sekali ketika dibicarakan.

Kelima, guru
yang menjelaskan lebih lanjut


Siswa juga sebenarnya senang jika selain detail dan rinci
dalam menjelaskan materi, guru juga menyampaikan materinya secara berulang. Tidak
satu kali saja.

Menyampaikan materi satu kali, mungkin akan langsung dipahami
dan melekat bagi siswa yang jenius atau memiliki kemampuan berpikir sama dengan
gurunya.

Namun, kebanyakan siswa tak demikian. Lebih banyak dari
mereka membutuhkan materi itu disampaikan secara berulang. Agar mereka lebih
paham.

Sebagai guru, anda tentu memerlukan kesabaran berlebih untuk
hal ini. Cukup berempati dengan daya tangkap siswa yang tidak sama dengan
gurunya.

Keenam,
guru yang mengajar dengan berbagai cara


Siswa juga senang dengan guru yang variatif dalam memilih
cara mengajar yang digunakan. Apalagi, jika siswa yang dimaksud adalah siswa
dengan usia yang masih kecil.

Anak-anak kecil cenderung mudah bosan dan tak bisa diam. Mereka
akan lebih antusias jika anda mengusahakan berbagai cara melalui bantuan bahan
ajar atau media yang membantu proses pengajaran yang anda berikan.

Ketujuh,
guru yang bersikap tegas


Guru yang tegas bukan berate guru yang diktator atau killer. Tegas berarti konsisten dalam
menegakkan aturan.

Banyak siswa yang sebenarnya tak suka dengan guru yang
terlalu lunak dan lembut, menoleransi berbagai kesalahan, dan sebagainya.

Ketidak konsistenan ini bisa berakibat fatal jika akhirnya
siswa menganggap anda main-main dalam aturan. Bisa muncul potensi anggapan pilih
kasih, tidak adil, dan sebagainya.

Kedelapan,
guru yang selalu memiliki tujuan


Alangkah baik juga jika anda sebagai guru senantiasa memulai
pengajaran dengan menyampaikan apa tujuan yang ingin anda dan siswa capau
dikelas selama pembelajaran?

Bagi siswa, hal ini akan membantu mereka untuk lebih
berkonsentrasi selama pelajaran yang anda langsungkan di kelas. Hal ini mungkin
sepele dan hanya memakan waktu beberapa menit, namun dampaknya bisa luas.

Untuk meneguhkan dan mengingatkan tujuan pelajaran, anda bisa
menuliskannya di papan tulis misalnya.

Kesembilan,
guru yang mejadi contoh yang baik bagi siswa


Busy teacher
membagikan salah satu kisah seorang siswa yang bercerita bahwa mereka
mengidolakan gurunya yang selalu membawa makanan organic dan enak lalu
membagikan makananya kepada siswa yang tidak membawa bekal makan siang.

Guru tersebut disenangi siswa dan para siswa menjadi ingin
terlihat seperti gurunya.

Kata yang familiar tentang hal ini adalah teladan. Ya, guru
harus menjadi teladan. Jika ia menginginkan sesuatu pada siswanya, maka ia bisa
memberi yang terdepan dalam memberi contoh.
Seringkali ribuan kata dan retorika tak lebih bermakna dari
satu keteladanan.


Kesepuluh, guru yang percaya kepada siswanya


Pesan terakhir yang penting di sadari guru
dari persepektif siswa, adalah bahwa siswa senang jika guru memercayai mereka.

Jika anda melihat siswa anda nampaknya tidak
paham, nampak tidak mengerti, nampak bingung, jangan lantas meninggalkan
mereka.

Percayalah bahwa mereka bisa. Anda jangan
putus asa dengan memiliki persepsi bahwa siswa anda bodoh dan selamanya akan
bodoh.

Justru yang harus anda lakukan adalah
memberikan dukungan kepada mereka. Mendengarkan penjelasan mereka tentang apa
yang belum mereka pahami, dan bantuan apa yang anda bisa lakukan.**

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like