Menjadi guru pembelajar
yang sebenar-benarnya tentu tidak cukup dengan terdaftar di program-program
tertentu SIM PKB. Predikat guru pembelajar seejati tidak cukup diraih dengan sekedar
mencantumkan identitas diri sebagai guru pembelajar.

Dilihat dari
definisinya, guru pembelajar terdiri dari dua kata. Kata guru dan kata
pembelajar. Kata guru artinya orang yang
pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.
Sedangkan
pembelajar artinya orang yang
mempelajari.
Dari gabungan arti tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa guru
pembelajar adalah mereka yang
pekerjaannya mengajar namun disaat yang sama masih melakukan kegiatan
mempelajari.

Ringkasnya, guru
pembelajar adalah guru yang tidak berhenti belajar. Bagaimana karakter yang
mesti melekat dalam diri guru pembelajar? Sesungguhnya karakter adalah sesuatu
yang melekat pada diri seseorang. Penampakannya bersifat alamiah dan sulit
dibohongi.

Bagaimana meraih
predikat guru pembelajaran yang sebenar-benarnya? Berikut ulasannya.

Pertama, rendah hati alias tidak sombong


Untuk menjadi seorang
guru pembelajar, guru juga harus berusaha terhindar dari sikap sombong. Sebaliknya,
harus melekat pada dirinya sikap rendah hati.

Dengan sikap rendah
hati, manusia akan merasa terus kurang dan merasa perlu terus menambah. Termasuk
dalam hal ilmu. Kerendahan hati dalam masalah ilmu, akan membuat seseorang
merasa terus kekurangan akan imu, sehingga akan terdorong untuk menjadi manusia
pembelajar.

Sebaliknya, sikap
sombong, merasa hebat, merasa lebih baik, cenderung akan membuat hati tertutup
untuk menerima ilmu-ilmu baru. Dorongan untuk belajar sesuatu yang baru menjadi
minim karena merasa ilmunya sudah banyak.

Sikap sombong juga
membuat seseorang memilah-milah kebaikan. Hanya menerima dari orang terhormat
saja misalnya. Padahal, bukan tak mungkin ada ilmu juga yang bisa didapat dari
orang-orang yang secara usia, status sosial, atau pekerjaan levelnya ada
dibawah kita.

Imam Ali bin Abi Thalib
pernah berpesan, “Lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang
menyampaikan.”

Kedua, tanggap terhadap keadaan sekitar


Untuk menjadi seorang
guru pembelajar, guru juga harus mau untuk mengamati keadaan disekitarnya. Terutama
soal perubahan zaman.

Zaman berubah,
teknologi berubah, informasi yang menjadi input anak-anak didik di sekolah
berubah, dan berbagai hal lainnya. Hal ini penting diamati dan diresapi
makna-makna dibaliknya.
Jika seorang guru
mengamati hal-hal tersebut, ia akan berfkir bahwa ia harus terus meng-upgrade diri untuk menyesuaikan dengan
hal-hal disekitar yang pastinya sedikit banyak berdampak kepada karakter anak
didik di sekolah.

Otomatis, ia akan
menjadi sosok pembelajar. Dengan mencari tau cara-cara menghadapi masalah yang
diakibatkan dari perubahan zaman yang ada dihadapannya.

Ketiga, senang menerima saran dan masukan


Menjadi guru pembelajar
juga artinya harus membiasakan diri dengan menerima saran dan masukan. Walau menerima
disini bukan berarti mengikuti semua saran dan masukan orang lain. Pada kenyataannya,
ada saran itu ada yang membangun, dan ada juga yang menjatuhkan. Pandai-pandai
saja kita memilahnya.

Namun yang terpenting
sebenarnya bukan itu. Hal yang penting adalah mau dan terbiasa mendengar orang
lain. Terlepas nantinya akan kita ikuti atau tidak, tapi kebiasaan menerima
informasi dari orang lain itu juga akan menumbuhkan sikap menjadi pembelajar.

Makanya dalam dunia
pengembangan diri, dikenal istilah mentor. Mentor adalah sosok yang dijadikan
pembimbing dan role model dalam
kehidupan. Sangat bagus jika sebagai guru kita juga memiliki mentor. Tentu saja, mentor bukanlah orang sembarangan.

Orang yang dijadikan mentor mestilah orang yang memiliki kapasitas
untuk dijadikan role model, sehingga
dia bisa secara tepat memberikan saran-saran dan masukan dalam proses belajar. Pastinya
setiap mentor yang baik akan
menyarankan untuk tak berhenti belajar.
Semoga kita mampu menjadi guru pembelajar.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like