Ketika siswa dilarang datang ke
sekolah selama pandemi, banyak orang mengira bahwa guru otomatis menganggur. Tugas
guru otomatis tak ada. Hanya kirim-kirim tugas saja sambil santai minum kopi
dan singkong rebus. Menduga-duga meang boleh saja. Tapi, benarkah demikian?
Kalau yang dibicarakan konteksnya
individu per individu, tentu tak bisa dipukul rata. Masyarakat bisa cek
langsung saja ke guru yang bersangkutan. Apakah selama Pandemi ini guru itu
jadi santai-santai saja tiada kerjaan? Atau ternyata tetap sibuk sebagaimana
biasanya?
Tapi kalau yang dibicarakan
adalah sesuatu yang normatif dan ideal, guru di masa pandemi ini sebetulnya
tetap sibuk lho. Tugas sebagai guru tetap ada. Normal dan sepertinya tak bisa
dikatakan gampang dan membuatnya bisa santai-santai saja.

Baca juga : Tugas Guru Pelosok Semakin Berat pada Masa Pandemi

Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan sudah mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Belajar Dari Rumah Selama
Darurat Bencana Covid-19 Di Indonesia. Pedoman ini didasarkan pada Surat Edaran
Setjen Nomor 15 Tahun 2020.
Pedoman ini mengupas seluk beluk
kegiatan layanan pendidikan yang ideal untuk setiap pelaku pendidikan di Indonesia.
Termasuk, menjelaskan juga tugas-tugas guru selama masa pandemi. Apa saja
tugasnya?
Kemendikbud sendiri membagi tugas
guru ke dalam dua skenario. Pertama, tugas guru jika pembelajaran dilakukan
secara daring (dalam jaringan/online), dan tugas guru jika pembelajaran
dilakukan secara luring (luar jaringan/offline)
Dalam skenario daring, tugas guru
adalah sebagai berikut:

Pertama, membuat skenario untuk berkomunikasi dengan orangtua/wali dan
peserta didik.


Bagi guru yang terbiasa dengan
penggunaan gadget, tugas ini mungkin mudah saja. Tapi bagi guru yang gaptek,
ini adalah pekerjaan yang butuh perjuangan dan tak bisa dianggap sepele.

Kedua, membuat RPP yamg sesuai minat dan kondisi anak


Ini juga sebetulnya bukan tugas
yang sederhana. Memahami minat dan kondisi anak membutuhkan pendekatan dan
upaya memahami anak didik dengan memerhatikan kondisi kekinian. Apalagi bagi
guru-guru dengan usia yang memiliki jarak cukup jauh dengan anak didiknya yang
beda zaman.

Ketiga, menghubungi orangtua untuk mendiskusikan rencana pembelajaran
yang inklusif sesuai kondisi anak

Tugas ini mungkin mudah saja
dilakukan guru. Namun, dalam sudut pandang orangtua, tentu orangtua beragam. Tak
semua orangtua aware dan bisa diajak
diskusi. Sebagian mungkin cuek dan kurang berminat membuka ruang diskusi. Ini juga
membutuhkan pendekatan yang tak sederhana.

Keempat, guru memastikan proses pembelajaran berjalan dengan lancar


Bagaimana caranya? Caranya dengan
memastikan persiapan untuk peserta didik, melakukan refleksi dengan peserta
didik, menjelaskan materi yang akan diajarkan, serta memafasilitasi tanya jawab
dengan siswa.

Kelima, guru mesti berkordinasi dengan orangtua/wali untuk penugasan
belajar


Bagi siswa yang belum dibekali gadget, guru otomotis harus mengirim tugasnya via orangtua. Orangtua tentu saja berbeda-beda dalam menanggapi tugas yang diberikan guru. Ada yang menerima dan koperatif, ada juga yang merasa risih dan menuntut guru untuk memberikan pemahaman yang baik agar urusan beres. Dalam pembelajaran normal, tugas ini malah tak ada.

Keenam, mengumpulkan dan merekap tugas yang dikirim peserta didik dalam
waktu yang telah disepakati


Ini sebetulnya tugas yang biasa
dilakukan dalam kondisi normal. Artinya, aktivitas merekap dan berkutat dengan
administrasi seperti ini juga tetap menjadi tugas guru dii masa pandemi.

Ketujuh, muatan penugasan adalah pendidikan kecakapan hidup, antara
lain mengenai pandemi covid-19. Selain itu perlu dipastikan adanya konten
rekreasional


Tugas ini juga tak mudah, karena
menuntut guru lebih melek literasi. Guru tak bisa memberikan tugas yang normatif
sesuai buku teks, akan tetapi guru juga harus berfikir lebih jauh tentang
hal-hal yang relevan dengan kehidupan anak, termasuk selama masa pandemi.
Poin rekreasional juga sebetulnya
bukan pekerjaan sederhana.
Sampai sini, masih berfikir
dimasa pandemi ini guru otomatis menganggur?
Sementara itu, jika pembelajaran dilakukan secara luring (offline), tugas guru lebih rumit. Hal ini berlaku dalam kondisi wilayah-wilayah terpencil yang akses internet dan kepemilikan perangkatnya terbatas.

Baca lainnya : Guru Punya Pekerjaan Sampingan, Bolehkah?
Baca juga: Wajar Jika Orangtua Stres Anak Belajar Dari Rumah, Ini Alasannya

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like