Matapendidikan.com.-Jika kita mencari sosok
guru ideal dalam melaksanakan work from
home,
bu guru Een adalah sosok yang kita cari. Wanita asal Sumedang, Jawa
Barat, yang lahir pada 10 Agustus 1963 itu menghabiskan lebih dari separuh
hidupnya untuk mengajar dari rumah.


Meski sejak usia 18
tahun bu guru Een sudah sakit-sakitan. Namun itu tak mengurangi semangatnya
untuk menamatkan pendidikan keguruan di IKIP Bandung  yang sekarang berganti nama menjadi Universitas
Pendidikan Indonesia UPI.


Namun naas, penyakitnya
semakin parah hingga akhirnya Een mengalami lumpuh total beberapa tahun setelah
lulus, yakni pada tahun 1987. Sejak saat itu, ia tak bisa menjadi guru seideal
guru-guru pada umumnya yang pergi berangkat ke sekolah setiap harinya.


Penyakit Rheumatoid
arthritis (RA) yang menjadikannya lumpuh membuatnya tak bisa bergerak layaknya
guru-guru yang pulang pergi ke sekolah. Jangkan berlari, berdiri saja sulit.
Sejak saat itu, ia hanya bisa terbaring tidur dirumahnya.


Een dan keluarganya
sudah berulangkali mencoba pengobatan ini dan itu. Mulai dari berobat ke dokter
hingga menjalankan pengobatan alternatif. Namun, semua bentuk pengobatan yang
dicoba tetap tak mengubah takdir-Nya. Een tetap dengan penyakitnya. Bahkan,
menjelang wafatnya, Een menderita penyakit mata.


Namun, Een bukan sosok
yang mudah menyerah. Ia tetap semangat dalam melanjutkan hidup. Termasuk, dalam
mewujudkan cita-citanya menjadi seorang guru dengan segudang manfaat yang
diberikan bagi sekitarnya.


Selain berusaha untuk
sembuh, Een juga tetap mengajar meski ditengah keterbatasan. Een membuka kursus
bagi anak-anak di kampung sekitar rumahnya. Anak-anak usia sekolah berdatangan
belajar kepada bu guru Een dan merasa nyaman dengannya.


Padahal, saat mengajar, Een
mengajar di atas tempat tidurnya yang berukuran kurang lebih 1×2 meter.
Berbagai macam pelajaran Een ajarkan kepada anak-anak dalam waktu
bertahun-tahun lamanya. Mulai dari pelajaran formal, umum, bahkan
pelajaran-pelajaran keagamaan.


Tentu saja, Een mengajar
sebagai pribadi, bukan sebagai bagian dari lembaga sekolah. Namun, semata-mata
dorongan dan pengabdiannya sebagai manusia yang ingin senantiasa bermanfaat
bagi orang lain dikondisi apapun.


“Anak-anak ini obat
buat saya. Sebenarnya, apa yang saya lakukan semata-mata demi Ridho Allah SWT
dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Di satu sisi, saya merepotkan orang
lain. Tapi, di sisi lain, saya ingin bermanfaat buat orang lain,” demikian
sebagaimana dikutip dari liputa6.com.


Kegigihan Een lambat
laun mengundang simpati banyak orang membantu harapan dan cita-cita Een dalam
bidang pendidikan. Hingga sebelum akhir hayatnya, Een berhasil membangun sebuah
sarana pendidikan yang ia beri nama Rumah Pintar Al-Barokah pada tahun 2013.


Layanan pendidikan di
Rumah Pintar Al-Barokah mencerminkan ketulusannya. Pasalnya, kegiatan belajar
mengajar di Rumah Pintar Al-Barokah terbuka bagi siapapun dan tidak dipungut
biaya.
Akhir tahun 2014,
tepatnya tanggal 12 desember, menjadi tahun duka bagi dunia pendidikan. Dunia
pendidikan kehilangan sosok inspiratif dari sosok bernama Een Sukaesih.


Begitulah sosok Een.
Bahwa sebagai guru, sudah selayaknya memiliki semangat berbagi dan bermanfaat
dengan ilmu yang dimiliki, meski ada hambatan yang menghalangi, sebagaimana
hambatan dari pandemi ini yang pastinya tak seberat apa yang dialami oleh bu
guru Een.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like