Penyebab Anak Mogok Datang Ke Sekolah


Bagi
sebagian anak, ada yang menganggap pandemi ini momen yang menyenangkan. Akibat
pandemi, mereka akhirnya bisa lepas dari kegiatan sekolah. Hal ini karena
selama mereka bersekolah, mereka tidak betah di sekolah. Meski mereka sudah
diberi uang saku.
Akui saja,  jika anda adalah orangtua murid, pasti ada
diantara anak anda yang kerap kali merasa berat untuk datang ke sekolah. Jika anda
sebagai guru, dipastikan juga ada anak didik anda yang nampaknya tidak betah
berada di sekolah.
Jika keberatan hati itu dibiarkan
terus menerus, lama-lama anak –anak itu akhirnya akan mogok sekolah. Hal ini
tentu menyulitkan anda sebagai orangtua dan guru. Mengingat hal tersebut akan membuat anda
mengeluarkan upaya besar untuk merayunya mau datang lagi ke sekolah.
Agar hal itu tidak terjadi, anda harus
mencegahnya sejak dini. Mencegah anak mogok sekolah jelas lebih baik ketimbang
merayu anak ketika terlanjur keukeuh mogok
sekolah.
Pakar parenting, Abah Ihsan,
dalam bukunya yang berjudul Anak Saleh Lahir
dari Orangtua Saleh
menjelaskan setidaknya ada tiga penyebab anak-anak
tidak betah di sekolah dan pada akhirnya mogok sekolah. Apa saja penyebab itu?

Pertama, anak-anak mogok karena
menghindari kejenuhan sekolah.

Sesuatu yang dikerjakan rutin secara
berulang-ulang memang rentan menimbulkan rasa jenuh. Jangankan anak-anak anda,
anda sendiri pasti kerap merasakan apa yang namanya jenuh.
Munculnya rasa jenuh juga bisa
timbul dari kecilnya tantangan yang didapatkan seseorang, termasuk anak. Jika anda
anda sudah pandai membaca misalnya, ia tentu akan merasa jenuh ketika setiap
hari diikutkan bersama anak-anak lain yang masih belajar membaca. Hal ini bisa
juga memicu jenuh.
Apalagi, jika anak tersebut masih
usia SD. Anak-anak usia tersebut lebih rentan dengan kejenuhan. Meski di
sekolah ada tempat bermain dan guru-gurunya menyampaikan pembelajaran dengan
menyelipkan permainan, seringkali permainan yang diulang-ulang juga membuat
jenuh.

Kedua, anak-anak mogok karena
menghindari kurikulum yang tidak sesuai dengan perkembangannya.

Anak juga bisa jadi mogok sekolah
akibat kurikulum yang membuat dahi mereka berkerut. Anda bayangkan saja jika
anda diberikan pekerjaan yang memiliki gap
dengan kapasitas anda. Apakah anda akan pusing? Pasti.
Begitu juga dengan anak. Anak-anak
akan pusing jika di sekolah diberikan tugas-tugas yang diluar karakter anak
yang berbeda-beda dalam setiap fase usianya.
Bagaimana misalnya, jika anak SD
kelas 1 dijejali begitu banyak mata pelajaran? Disuruh bikin KTP atau hal-hal
yang tidak relevan dengan kehidupannya? Wah, pasti pusing tuh anak anda.
Maka jika berkaca pada
lembaga-lembaga pendidikan di luar negeri yang dikenal sudah relatif mapan,
jumlah mata pelajaran itu menyesuaikan dengan taraf perkembangan anak. Hal ini
bisa membuat anak-anak terhindar dari rasa pusing dan berat datang ke sekolah.

Ketiga, mendapatkan
ketidaknyamanan dari prilaku orang lain di sekolah.

Orang lain yang dimaksud disini
adalah bukan hanya siswa, tapi juga guru. Sekolah adalah lembaga yang menuntut
anak anda bertemu dengan orang yang sama secara berulang setiap harinya. Tentu saja,
jika anak anda punya masalah dengan satu atau beberapa orang di sekolah, itu
akan membuatnya tidak nyaman berada di sekolah.
Hal yang umum terjadi, anak-anak
mendapatkan perundungan atau popular disebut
bullying.
Perundungan ini memang kerap kali mengakar sehingga sulit
dideteksi oleh struktur sekolah keberadaannya. Makanya tak jarang, ketika di
suatu sekolah terekspos kasus perundungan, struktur sekolahnya merasa kaget.
Dilingkaran siswa, biasanya ada kasta,
ada bos, ada ketua, ada bawahan, ada pesakitan, ada geng, ada kubu-kubu, yang
strukturnya informal dan tidak terdeteksi guru. Biasanya, siswa dengan kasta
pesakitan dan dianggap rendahan inilah yang menjadi korban perundungan dan
akhirnya memilih mogok sekolah.
Untuk itu, guru perlu terjun
untuk menyelami kehidupan sekolah. Di sekolah sendiri, umumnya sekarang sudah
memiliki orang khusus yang ditugaskan menangani masalah ini, yakni guru
bimbingan konseling.
Hanya saja, optimalisasi perannya
disetiap sekolah tentu belumlah sama dan perlu diperbaiki setiap waktu agar
kasus seperti ini minim terjadi.**
Silahkan share artikel ini jika bermanfaat dengan cara memilih tombol media sosial di bawah ini
↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like