Ditengah pandemi, anak-anak yang biasanya
pergi ke sekolah dan belajar bersama gurunya harus mengubah kebiasaannya. Kini,
semua anak harus belajar dari rumah dengan dipandu orangtuanya.
Kemendikbud, sebagai instansi
pemerintah yang menaungi jalannya aktivitas pendidikan nasional, telah menyusun
pembagian tugas mendidik agar anak-anak tetap belajar. Masing-masing pihak,
mulai dari dinas pendidikan daerah, kepala sekolah, guru, hingga orangtua ada
tugasnya masing-masing.
Namun, tak sedikit orangtua
mengeluhkan pembagian tugas yang diberikan kemendikbud. Kegiatan belajar dari
rumah memang berbeda dengan kegiatan di sekolah.
Di sekolah, guru bisa dengan
leluasa menjelaskan materi hingga siswa benar-benar paham. Maka ketika guru
jauh dari murid, tugas ini menjalani sulit dijalankan secara sempurna. Harus diakui
bersama, bahwa pembelajaran langsung dengan tatap muka bagaimanapun juga lebih
efektif dalam proses mentransfer ilmu, pemahaman, hingga keteladanan.
Maka menjadi wajar, jika orangtua
stres ketika harus menjalankan sebagian tugas yang biasanya dilakukan guru. Kak
Seto, Kepala Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) sampai buka suara, agar
sekolah menerapkan kurikulum darurat agar tak membebani orangtua.
“Jadi  mohon ada semacam kurikulum darurat atau
evaluasi darurat. Mungkin sekarang ini supaya tidak memberatkan siswa,” katanya
sebagaimana dilansir kompas.com pada
(26/4) lalu.

Shock Culture


Keluhan dan stress sebagian
orangtua dapat dipahami. Karena mungkin tak setiap orangtua terbiasa
berlama-lama menghabiskan waktu dengan anaknya. Berdasarkan penelitian dari
Hermaini Penelitiannya tentang Keberadaan Orangtua Bersama Anak yang terbit
pada Desember 2013 lalu, ditemukan fakta mengejutkan.
Ternyata, 65,5% orangtua lebih
banyak tidak berada didekat anaknya ketika di rumah. Selain itu, fakta lainnya,
hanya 11,5% orangtua saja yang biasa menemani anak belajar ketika di rumah.
Maka dapat dibayangkan, ketika
kini 100% anak harus belajar di rumah, pasti yang terjadi adalah shock culture. Menemani anak belajar
dari rumah bukanlah hal yang biasa bagi sebagian besar orangtua.
Ironisnya, ketika anak sedang
belajar di rumah, mayoritas orangtua sibuk dengan kepentingan pribadinya
sendiri. Ketika anak belajar di rumah, 31,1% orangtua malah asik menonton televisi,
23,4% berada di kedai, dan 29, 2% berada diluar rumah.
Maka ketika pandemi ini
berlangsung, wajar jika orangtua mengalami stres. Mengubah kebiasaan lama
menuju kebiasaan baru memang bukan hal yang mudah bagi siapapun. Butuh upaya
yang keras untuk melakukannya.(han)**

Baca juga: Penyebab Anak Mogok Sekolah

Silahkan share artikel ini jika bermanfaat dengan cara memilih tombol
media sosial di bawah ini
↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like