Pada umumnya, siswa belajar
karena tuntutan dari luar atau pengondisian. Mereka didaftarkan orangtuanya di
kelas, dibiasakan masuk sekolah dan duduk menyimak guru, menikmati isirahat,
belajar lagi, hingga bel pulang berbunyi. Ketika di rumah, mereka belajar jika
diminta oleh orangtuanya untuk les tambahan dan mendapat perintah. Dengan kata
lain, tidak ada kemandirian siswa dalam belajar.
Sebagai sebuah proses, hal itu
wajar-wajar saja. Namun, jelas bukan itu yang diharapkan pada ujung perjalanan
seorang siswa dalam suatu sistem pendidikan. Pada gilirannya, yang diharapkan
adalah munculnya kesadaran pribadi yang mendorong mereka untuk belajar tanpa
ada yang meminta. Sepatkah? Mudah-mudahan sepakat.
Dengan demikian, yang terjadi
mereka tak mengenal waktu dan tempat dalam belajar. Tak terpatok pada guru di
ruang kelasnya, buku diperpustakan sekolahnya, juga jam pelajaran yang ada bel
keluar masuknya.
Lantas, bagaimana cara
meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar? Setidaknya, ada beberapa hal yang
dapat mendorongnya.

1. Memahamkan Tentang Tujuannya Belajar

Apapun itu, yang namanya
kemandirian mesti berasal dari diri sendiri. Berakar dari jawabannya tentang ‘apa
tujuan belajarnya?’
Anak seusia SD yang akalnya belum
sempurna mungkin relatif sulit untuk diberikan penekanan soal ini. Namun, untuk
anak SMP yang kategorinya sudah baligh, logikanya
lebih mudah untuk memberikan pemahaman soal ini.
Peran ini bukan hanya ditangan
guru, melainkan juga ditangan orangtua. Berikan satu persepsi bahwa apa yang
mereka lakukan di sekolah bukan sekedar untuk kebaikan anda selaku guru atau
ayah dan bundanya. Namun, itu semua untuk kebaikannya sendiri.
Jelaskan bahwa belajar memiliki
resiko yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang. Bahkan, bisa jadi
mempengaruhi tempat sang anak di akhirat kelak. Begitu banyak manfaat dari
belajar jika dilakukan dengan semangat dan penuh konsistensi.

2. Evaluasi Yang Baik Dan Benar Dari Guru

Siswa membutuhkan penilaian untuk
mengukur sejauh mana mereka berproses. Mengetahui sejauh mana hasil dari upaya
yang mereka lakukan.
Hanya saja, penilaian ini
haruslah fair. Meski sulit bagi guru
untuk meninggalkan subjektifitas, namun seminimalnya bicaralah dengan data. Bukan
dengan tutup mata dan mengawang-awang, karena bahkan mengenal nama siswanya
saja tidak.
Proses penilaian yang jauh dari
realitas akan berdampak pada dua sisi. Dari sisi siswa yang dinilai baik
padahal tak sebaik itu; mereka akan jumawa dan merasa cukup dengan nilainya. Menganggap
dengan cara belajar yang burukpun bisa tetap mendapat nilai terbaik.
Sementara dari siswa yang dinilai
buruk padahal realitasnya baik, ini juga akan memberikan kekecewaan yang
menurunkan motivasi belajarnya. Tentu saja ini bukan hal yang mestinya terjadi.
Mematahkan sayap burung yang hendak beranjak terbang dari sangkarnya. Oh, kejamnya.
Namun, ketika memberi nilai, ajak
juga mereka berpikir apa yang selanjutnya mereka akan lakukan dengan nilai
tersebut? Berikan pertanyaan reflektif yang membantu mereka mengorelasikan
nilai dengan masa lalu dan masa depannya, sehingga mereka dapat menyimpulkan
apa yang mereka harus kerjakan hari ini: belajar.
Sebaiknya guru tak menyuruh mereka
rajin belajar, tapi mendorong mereka sadar sendiri tentang hal tersebut. Bahwa itu
adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan.

3. Pelatihan dan Bantuan

Mungkin saja ada yang telah
semangat belajar, namun mereka membutuhkan bantuan pada aspek-aspek tertentu
yang ada diluar mata pelajaran. Umumnya berhubungan dengan soft skill dan ilmu kehidupan yang tak bisa dipelajari dibuku atau
tak mampu mereka akses.
Disinilah perlunya peran guru
untuk memberikan mereka pelatihan maupun bantuan. Misalnya, untuk siswa yang
kelabakan mengatur jadwalnya belajar di luar sekolah, karena berbenturan dengan
kegiatan lainnya. Disini mungkin guru bisa berbagi tentang bagaimana caranya
melakukan manajemen waktu yang baik.
Atau, ada yang terhambat
fasilitas buku ataupun sumber belajar. Maka perlu juga ada support  yang memadai agar
kemandirian yang mulai muncul itu terjaga dan tidak mudah padam. Jangan sampai
ketiadakan dukungan dari orang sekitar membuat tekad yang bulat itu pudar.

4. Apresiasi

Apresiasi disini bukanlah bentuk
penghargaan yang diberikan guru kepada siswa. Namun, tentang bagaimana siswa
mengapresiasi apa yang telah dilakukannya sendiri. Maksudnya bagaimana?
Mereka misalnya, harus belajar
membiasakan kata belum ketimbang tidak. Ketika pekerjaannya tidak
memuaskan dalam penilaian, maka bantu mereka untuk menginstall kesadaran, bahwa
‘saya belum baik dan akan menjadi baik’, jangan sampai yang terbangun adalah ‘saya
tidak bisa dan tidak akan pernah bisa’.
Dalam kasus lain, bisa tanamkan
juga dalam batinnya manakala mereka mencoba sesuatu yang baru namun nyatanya
gagal. Maka, bantu mereka menanamkan kesadaran bahwa “Saya mendapatkan
pelajaran baru hari ini dan besok akan lebih baik lagi,” dan jangan sampai ada
persepsi semacam, “Saya gagal dan malu,”
Itu adalah contoh bentuk
apresiasi atas pekerjaan yang dilakukannya sendiri. Jika terbangun kesadaran
semacam itu, bukan tak mungkin siswa akan terdorong belajar lebih baik bahkan
beberapa kali lipat dari teman-temannya belajar normatif di kelas.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like