8 Tips Membimbing dan Memotivasi Anak Saat Belajar di Rumah 2021

Memasuki awal tahun 2021, sebagian besar anak Indonesia masih dipastikan akan melangsungkan kegiatan belajar dari rumah. Pandemi yang belum usai menjadi penyebabnya. 

Selaku orang tua, Anda tentu saja masih perlu untuk menyiapkan diri. Kesulitan dan berbagai kendala yang dihadapi sebelumnya mesti dievaluasi dan jangan sampai menjadi sebab menyerah. 

Bagaimanapun, anak-anak Anda masih membutuhkan bimbingan Anda selama di rumah. Maka penting bagi Anda untuk mengetahui tips membimbing anak saat belajar di rumah.

Program Belajar dari Rumah yang masih akan terus berlangsung 2021, mesti menjadi alasan bagi Anda untuk tetap memperbaiki diri.

Fakta Orang Tua Selama Kegiatan Belajar dari Rumah

Sebagai guru di sekolah, Saya sempat melakukan survei kecil-kecilan terhadap siswa yang saya ajar.  Salah satu isu yang saya ukur adalah sejauh mana keterlibatan orang tua selama mereka belajar di rumah. 

Bagaimana hasilnya? Mengenaskan. Kurang dari 10% saja yang mengaku kegiatan belajarnya di perhatikan. Selebihnya, merasa diabaikan begitu saja.

Mudah-mudahan Anda tidak terkategori yang demikian. Namun jika ternyata termasuk, maka selamat, Anda tak sendirian. 

Meski demikian, ada baiknya Anda membuat resolusi baru di tahun 2021 agar tak lagi demikian.

Penyebab Orangtua Kurang Terlibat Belajar dari Rumah

Saya pribadi sangat memahami jika banyak orang tua yang sulit atau enggan melibatkan diri dalam mendampingi, memotivasi, serta mendidik anak di rumah.

Persoalannya tentu bisa bermacam-macam. Mulai dari kesibukan kerja yang sulit untuk dibagi waktunya, hingga sulitnya beradaptasi dengan kenyataan bahwa anak-anak harus didampingi di rumah. 

Padahal sebelumnya, Anda sudah merasa nyaman dan aman menyerahkan urusan pendidikan anak pada guru.

Ada juga yang mulanya semangat untuk terlibat lalu menjumpai batu karang di tengah perjalanan. Ada yang mungkin akhirnya menyadari, bahwa betapa sulit menggantikan peran guru di rumah. Akhirnya, sebagian ada juga yang frustasi dan nggak ikut-ikut lagi.

Namun bagaimanapun masalahnya, pandemi ini masih berlangsung. Belajar dari Rumah juga masih menjadi pilihan sebagian besar pemerintah daerah. Fakta-fakta tersebut mau tak mau membuat Anda perlu untuk terus berusaha menyesuaikan diri.

Toh pada dasarnya, pilihan kebijakan ini juga merupakan pilihan yang terbaik. Semua demi kebaikan dan kesehatan seluruh warga negara.

Tips Mendidik dan Memotivasi Anak Belajar dari Rumah

Untuk menambah referensi Anda mengenai bagaimana cara untuk sukses mendidik sekaligus memotivasi anak belajar dari rumah, Saya akan coba berbagi tipsnya. 

Dalam kacamata sebagai pengajar di sekolah dan juga mendidik anak usia TK, Saya setidaknya merasa perlu memberikan beberapa tips berikut ini.

Apa saja? Berikut ulasannya.

1. Berkomunikasi dengan guru

Sebagai bahan untuk melakukan pembimbingan dan motivasi anak di rumah, Anda memerlukan bahan berupa informasi seputar anak Anda. Mungkin saja ada hal-hal yang tak Anda ketahui namun diketahui oleh guru-gurunya di sekolah.

Oleh karena itu, jalinlah komunikasi dengan guru-guru yang biasa mengajar anak Anda di sekolah. Terutama, dengan guru kelas atau wali kelasnya.

Siapa tau dengan hal tersebut Anda bisa mendapatkan insight atau masukan yang menarik dan cocok untuk diterapkan pada anak. Mengenai pendekatan yang baik, treatment yang sesuai, dan berbagai hal yang membuat anak betah dan semangat belajar di rumah.

Anda tak perlu sungkan untuk melakukan hal ini. Pasalnya, pemerintah juga memang mendorong para guru untuk berkomunikasi dengan orangtua murid. 

Sebagai guru, Saya juga diperintahkan untuk demikian kok. Bahkan jika ada anak yang benar-benar tidak aktif dalam belajar di rumah, Saya dituntut untuk mendatangi orang tuanya dan menggali masalahnya.

Jujur saja, sebagai guru di sekolah, saya senang jika ada orangtua yang proaktif menanyakan perkembangan anaknya. Saya yakin banyak guru lain juga demikian.

Jadi, ketimbang menunggu guru datang ke rumah Anda, Anda bisa proaktif untuk menghubungi mereka. Jangan malu-malu!

2. Bantu untuk Membangun Nuansa Layaknya Sekolah

Salah satu hal yang membuat anak-anak Anda malas saat belajar di rumah, adalah nuansanya yang mendukung untuk bermalas-malasan. Hal-hal yang ada di rumah berlawanan dengan apa yang ditemui oleh anak di sekolah.

Dengan demikian, Anda bisa membantu mengkondisikan anak-anak agar mendapatkan feel sebagaimana mereka belajar di sekolah. 

Ada beberapa cara yang mungkin bisa dilakukan. Misalnya dengan menyiapkan meja belajar, kursi belajar, dan sebagainya.

Jangan lupa, sebelum jadwal masuk, dorong mereka untuk terlebih dahulu mandi dan mengenakan seragam. Meski mungkin tak dipantau langsung oleh gurunya di sekolah, namun ini akan membantu untuk menumbuhkan mood serasa di sekolah.

Anak Saya yang masih usia TK (5 tahun) sangat appreciate belajar ketika meski belum Saya sekolahkan (karena pandemi dan TK masih tutup) namun diminta menggunakan seragam anak TK. 

Perbedaannya begitu nampak jika dibandingkan saat ia menggunakan baju biasa. Semangat dan auranya berbeda. Mungkin saja hal ini juga terjadi pada anak-anak Anda.

Keberadaan kursi belajar, pensil, spidol, yang diganti dalam waktu yang berkala juga bisa menambah semangat mereka.

3. Bantu Mereka Menumbuhkan Mood

Banyak siswa yang mencurahkan isi hatinya kepada Saya ketika belajar dari rumah. 

Sebagian diantara mereka mengeluh karena jika di rumah mereka tidak diberikan uang jajan. Dengan demikian, hal-hal yang menumbuhkan mood dan biasa mereka beli di sekolah tak bisa didapatkan lagi. Ini membuat mereka juga jadi kurang semangat belajar.

Pada titik ini, sebenarnya jika memang mampu, Anda tetap berikan saja uang jajan sebagaimana saat mereka sekolah. Jika perlu, Anda belikan anak-anak cemilan untuk mengisi waktu istirahat belajarnya. 

Selain menambah mood mereka, ini juga mungkin akan memberikan efek merasa diperhatikan bagi anak. Mudah-mudahan, ini bisa membantu mereka untuk bertambah semangatnya.

4. Berikan Mereka Keteladanan

Tahukah Anda, tanpa sadar, anak-anak Anda memantau dan melakukan replika atas setiap perilaku Anda. Mereka juga menjadikan berbagai hal yang Anda lakukan sebagai pembenaran atas setiap yang mereka lakukan.

Maka jika Anda ingin mereka tetap semangat belajar, mengapa tidak Anda memberikan mereka contoh keteladanan yang baik? 

Misalnya dengan menunjukan kepada mereka bahwa Anda yang sudah tua juga masih belajar. Baik dengan membaca buku, menonton video di Youtube, atau membaca berbagai artikel di blog atau situs dunia parenting seperti situsnya The Asian Parent.

Toh, pada kenyataannya yang namanya belajar juga bukan hanya kewajiban anak-anak kok. Setiap manusia wajib belajar sepanjang hayat agar kualitas kehidupannya menjadi baik.

Satu waktu, anak Saya yang usia 5 tahun itu pernah bertanya-tanya ketika Bunda-nya membatasi kegiatannya untuk nonton YouTube, namun Bundanya kepergok nonton film korea, “Kok bunda begitu?”

Kalau sudah begini, kelabakan kan jawabnya? 

Jika dilakukan secara berulang, lambat laun pasti anak akan kehilangan respect.

Untungnya sekarang Bunda-nya bisa mengontrol. Kalau mau nonton, pasti memilih waktu malam hari saat anak sudah tidur. Itupun saya batasi sebagai suami.

5. Tunjukkan Konsistensi

Pada satu waktu, anak Anda mungkin terkesima melihat Anda melakukan hal-hal yang baik pada mereka. Namun jika itu hanya dilakukan dalam beberapa hari atau bahkan satu hari saja, dampak yang terjadi anak-anak Anda akan jadi malas lagi setelahnya.

Bukan hanya di rumah kok, di sekolah juga demikian. Guru yang koar-koar dan menekankan disiplin pada satu pertemuan lalu menunjukan kelonggaran di waktu yang lain, biasanya akan kehilangan respect. 

Ketidakkonsistenan semacam ini bahkan membuat anak-anak menyepelekan gurunya di kemudian hari.

Saya beberapa kali mendapatkan curhatan semacam ini dari anak-anak Saya di sekolah. 

Anak-anak akan kurang respect dengan guru yang suka memberi ceramah untuk semangat belajar, namun dirinya tak menunjukan guru yang semangat mengajar. Begitu juga guru yang mengingatkan absensi namun dirinya sendiri sering tak hadir masuk kelas.

Hal ini juga tentu saja berlaku dalam hubungan antara anak dan orangtuanya. Jangan biarkan mereka hilang respect dengan inkonsistensi Anda dalam melakukan proses pembimbingan dan memotivasi selama di rumah.

6. Mendengarkan Keluhannya

Namanya manusia, pasti ada waktunya ia mengeluh. Termasuk, anak-anak Anda yang melakoni proses belajar dari rumah. 

Entah itu stres, bosan, pusing, dan sebagainya. Ketika mereka mengeluarkan unek-uneknya, tak baik untuk memotong pembicaraannya. Alih-alih memotong, tentu lebih bijak mendengarkannya sampai habis.

Memotong pembicaraan akan membuat anak-anak merasa tidak dihargai. Pada titik tertentu, hal itu juga akan membuat mereka tak menghargai Anda. 

Sebaliknya, sikap menjadi pendengar yang baik akan membuat mereka merasa mendapatkan haknya dan membangun respect terhadap Anda.  

Jika unek-uneknya sudah habis, barulah Anda bisa bicara dan memberikannya masukan, ceramah, atau apapun yang bisa membantu menyelesaikan problem mereka. Cara semacam ini akan membuat apa yang Anda sampaikan bisa didengar.

Masa-masa awal, Saya dan istri sering memaksakan anak balita kami untuk bisa ini dan bisa itu tanpa memperhatikan keluhannya. 

Terlihat memang gurat-gurat penuh tekanan. Namun, mulanya kami terus paksakan.

Namun jika dipikir-pikir, ketika terus dipaksakan, anak justru bukannya lebih mudah menerima, ia malah jadi tambah sulit dan tidak fokus. Lantas kami mengubah cara dengan mempertimbangkan keluhan dan keinginannya agar mau sedikit-sedikit belajar.

Hasilnya? Suasana hati yang lebih bahagia dan bebas keluhan saat belajar justru membuat anak lebih mudah mendapatkan pelajaran.

7. Memberikan Apresiasi 

Usaha anak untuk belajar yang mungkin terlihat kecil di mata Anda selaku orang tua, mungkin hakikatnya adalah sesuatu yang besar di mata anak. 

Maka, sebisa mungkin jangan biarkan setiap pekerjaan mereka luput dari mata Anda sehingga lupa memberikan mereka apresiasi. Toh, memberikan apresiasi ini merupakan hal yang sangat mudah dan sederhana.

Dengan mengatakan, “Wah, hebat ya,”, “Terima kasih anakku,” atau “Alhamdulillah, ternyata anak bunda pintar ya,” itu juga bisa membuat hati anak menjadi senang dan termotivasi untuk mengulang pekerjaannya lagi.

Anak-anak itu pada dasarnya senang lho diperhatikan. Aura semangatnya akan tampak ketika pekerjaannya di apresiasi. 

Entah itu ketika mereka berhasil membuat gambar (yang menurut kita jelek), membuat tulisan (yang menurut kita tidak rapi), atau mengerjakan soal (yang masih ada salahnya).

Sesekali, boleh juga Anda berikan hadiah berupa benda-benda yang diinginkannya. Meski sebaiknya yang semacam ini jangan terlalu sering, karena ini bisa memicu munculnya sikap permisif.

Namun, apresiasi juga sebenarnya bukan hanya pujian. Respon Anda terhadap pekerjaan mereka, meskipun responnya berbentuk evaluasi, itu juga apresiasi kok. Pada intinya, hal ini menunjukan perhatian Anda terhadap kerja kerasnya.

Di sekolah, banyak siswa yang tidak senang dengan gurunya jika tidak transparan soal nilai yang didapatnya. Sebaliknya, mereka senang jika diberitahu nilainya berapa oleh guru.

Terlepas baik buruk nilai yang didapat, mereka setidaknya tahu bahwa gurunya memeriksa dan mengevaluasi pekerjaan mereka. 

8. Doakan Anak-Anak Anda

Terakhir dan yang tak boleh dilupakan, adalah menyelipkan doa-doa terbaik untuk mereka. 

Panjatkan permintaan kepada Sang Maha Kuasa agar mereka selalu ada dalam kondisi semangat dalam belajar serta mendapatkan kebermanfaatan dalam ilmunya.

Coba bayangkan wajah-wajah mereka dalam setiap doa yang dipanjatkan. Hal ini akan membuat pengharapan Anda akan terlihat lebih serius di mata Sang Maha Pemberi.

Terkadang, ada banyak hal diluar kuasa manusia yang tidak bisa diprediksi. Hal ini pasti karena faktor-faktor tak kasat mata yang ada diluar jangkauan indera manusia.

Nah, doa adalah faktor x untuk membuat anak-anak Anda selalu berada dalam kebaikan.

Nah, itulah dia beberapa cara membimbing dan memotivasi anak belajar di rumah. Semoga cara-cara yang dilakukan ini bisa membuat anak-anak tetap semangat untuk sekolah meski pandemi masih berlangsung.

Oh ya, jika ada salah satu anak Anda yang belum masuk usia sekolah (masih prasekolah atau usia 4 tahun), ada baiknya juga Anda membaca artikel tentang cara mendidik anak pra-sekolah dari Asiaparent. Bagi Saya, penjelasannya sangat menarik.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like