Materi Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Abbasiyah (PAI Kelas 8) Bab 9

Salah satu materi penting pada pembelajaran PAI kelas 8 adalah mengenai materi pertumbuhan ilmu pengetahuan pada Masa Abbasiyah. Ada berbagai peristiwa sejarah penting dalam masa peradaban Islam yang satu ini.

Materi Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Abbasiyah

Terdapat beberapa sub pembahasan dalam topik ini. Semuanya penting untuk dipelajari.

Pemerintahan Daulah Abbasiyah

Pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan sebelumnya dari Bani Umayyah. Pendiri Daulah Abbasiyah ini adalah Abdullah al-Saffh ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. 

Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).

Periode Kekuasaan Dinasti Abbasiyah

Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode, yaitu:

  • Periode Pertama (132 -232 H / 750-847 M), disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.
  • Periode Kedua (232- 334 H /847-945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.
  • Periode Ketiga (334- 447 H / 945-1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaihi dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
  • Periode Keempat (447- 590 H / 1055-l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk Agung).
  • Periode Kelima (590- 656 H / 1194-1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinast lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.

Kejayaan Dinasti Abbasiyah

Popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman Khalifah Harun ar-Rasyid dan puteranya Al-Ma’mun. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun ar-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Bayangkan, pada masa itu sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. 

Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Bidang kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

Al-Ma’mun, pengganti Harun ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu fisafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji para penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah. Salah satu karya besarnya yang terpentig adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tiggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Bagdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Pusat Peradaban pada Dinasti Abbasiyah

 Terdapat setidaknya 2 pusat peradaban dinasti abbasiyah.

  • Kota Baghdad, merupakan ibu kota negara Kerajaan Abbasiyah yang didirikan oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur (754 – 775 M) pada tahun 762 M. Kota ini terletak di tepian Sungai Tigris. Masa keemasan Kota Baghdad terjadi pada pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid (786 – 809 M) dan anaknya al-Ma’mun (813 – 833M).
  • Kota Samarra, letaknya di sebelah timur Sungai Tigris yang berjarak kurang lebih 60 km dari Kota Bagdad. Di kota ini terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Bani Abbasiyah

Pada masa Daulah Abbasiyah merupakan masa keemasan (The Golden Age) bagi umat Islam. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban, dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab. 

Fenomena luar biasa inilah yang kemudian  melahirkan para cendekiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Adapun cendekiawan-cendekiawan Islam pada masa Daulah Abasiyah adalah:

a. Bidang ilmu Filsafat

Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu fisafat ini adalah Abu Nasyar Muhammad bin Muhammad bin Tarhan yang dikenal dengan al-Farabi, Abu Yusuf bin Ishak yang dikenal dengan al-Kindi, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Rusd, Ibnu Bajah dan Ibnu Tufail.

b. Bidang ilmu Kedokteran

Tokoh cendekiawan Islam di bidang kedokteran ini adalah Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai bapak ilmu kimia, Hunaian bin Ishak yang dikenal sebagai ahli penerjemah buku-buku asing, Ibnu Sahal, ar-Razi (ahli penyakit campak dan cacar), dan Thabit Ibnu Qurra.

c. Bidang ilmu Matematika

Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu matematia ini adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (penemu huruf nol) yang dengan bukunya Algebra, Geometri Ilmu Matematika, Umar bin Farukhan (bukunya Quadripartium), Banu Musa (ilmu mengukur permukaan, datar, dan bulat).

d. Bidang ilmu Falak

Tokoh cendekiawan Islam dibidang ilmu Falak ini adalah Abu Masyar al Falaky (bukunya Isbatul Ulum dan Haiatul Falak), Jabir Batany (membuat teropong bintang), Raihan Bairuny (bukunya al-Afarul Bagiyah’ainil Khaliyah, Istihrajul Autad dan lain-lain).

e. Bidang ilmu Astronomi

Tokoh cendekiawan Islam di bidangAstronomi adalah al-Farazi (pencipta Astro Lobe), al-Gattni/Albetagnius, al-Farghoni atau Alfragenius.

f. Bidang ilmu Tafsir

Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu Tafsir ini adalah Ibnu Jarir at-abary, Ibnu Atiah al-Andalusy, as-Suda, Mupati bin Sulaiman, Muhammad bin Ishak dan lain-lain.

g. Bidang ilmu Hadits

Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu Hadis ini adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, at-Tarmidzi, dan lain-lain

h. Bidang ilmu Kalam (tauhid)

Tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu Kalam ini adalah Wasil bin Atha’, Abu Huzail al-Allaf, ad-Dhaam, Abu Hasan al-Asy’ary, Hujjatul Islam Imam al-Gazali.

Perkembangan Kebudayaan pada Masa Bani Abbasiyah

Kemajuan yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah tidak hanya mencakup kepentingan sosial saja, tetapi juga peradaban di semua aspek kehidupan, diantaranya:

  • Kemajuan organisasi militer dan administrasi pemerintahan
  • Kemajuan dalam sektor perdagangan, pertanian serta industry.
  • Kemajuan dalam bidang sastra dan berbagai macam kesenian.
  • Kemajuan dalam hal organisasi pendidikan.
  • Kemajuan dalam bidang penataan kota dan administrasi masyarakat. 

Hikmah Mempelajari Sejarah Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Abbasiyah

  • Meningkatkan keimanan kepada Allah Swt., dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,
  • Menumbuhkan semangat menuntut ilmu baik ilmu agama maupun ilmu dunia seperti yang telah dicontohkan oleh para cendekiawan Islam.
  • Mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam.
  • Membina rasa kesatuan dan persatuan umat Islam dan kerukunan beragama di seluruh dunia yang tiak membeda-bedakan suku, bangsa, negara, warna kulit, dsb.
Demikianlah pembahasan tentang materi pertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa abbasiyah untuk PAI kelas 8 bab 9.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like