Materi Puisi Rakyat Bahasa Indonesia Kelas 7: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, Struktur, Unsur Kebahasaan, & Contoh

Materi kelima yang dibahas dalam pelajaran bahasa Indonesia kelas 7 semester genap adalah materi tentang Puisi Rakyat. Materi puisi rakyat bahasa Indonesia ini sangat penting dibekali kepada siswa karena merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia yang syarat akan nilai moral dan kehidupan masyarakat..

Nah, dalam tulisan ini, saya akan coba membagikan materi tentang puisi rakyat bahasa Indonesia kelas 7 berdasarkan buku teks resmi yang dikeluarkan oleh Kemendikbud.  Semoga ini dapat membantu Anda semua. 

Materi Puisi Rakyat Bahasa Indonesia Kelas 7

Materi yang akan kita bahas kali ini cakupannya cukup lumayan banyak. Mulai dari pengertian puisi rakyat, ciri-ciri, jenis, struktur, unsur kebahasaan, dan tentu saja contoh puisi rakyat.

Pengertian Puisi Rakyat

Puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang mempunyai nilai moral tertentu dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat secara turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang.

Puisi rakyat juga dikenal dengan istilah puisi lama yang pengarangnya tidak diketahui secara pasti dan mempunyai ketentuan kaidah dan struktur yang baku.

Ciri-Ciri Puisi Rakyat

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, karakteristik puisi rakyat diantaranya yaitu:

  • Memiliki bentuk yang tetap.
  • Terikat dengan jumlah baris per bait.
  • Memiliki pengulangan bunyi (rima) akhir.
  • Jumlah kata per baris.

Jenis-Jenis Puisi Rakyat

Dalam dunia kesusastraan kita memiliki warisan turun-temurun berupa cerita rakyat atau puisi rakyat yang tidak diketahui siapa pengarangnya dan biasanya disampaikan dari mulut-ke mulut.

Puisi rakyat yang disampaikan dari mulut-ke mulut tanpa diketahui secara pasti pengarangnya itu umumnya berupa pantun, gurindam, ataupun syair.

1.  Pantun

Pengertian Pantun

Pantun adalah puisi Melayu yang mengakar dan membudaya dalam masyarakat. Pantun dikenal dengan banyak nama di berbagai bahasa di Nusantara, tonton (bahasa Tagalog), tuntun (bahasa Jawa), pantun (bahasa Toba) yang memiliki arti kurang lebih sama, yaitu suatu ucapan yang teratur, arahan yang mendidik, bentuk kesantunan.

Fungsi Pantun

Fungsi pantun di semua daerah (Melayu, Sunda, Jawa, atau daerah lainnya) sama, yaitu untuk mendidik sambil menghibur.

Melalui pantun kita menghibur orang dengan permainan bunyi bahasa, menyindir (menegur bahwa sesuatu itu kurang baik) secara tidak langsung, atau memberi nasihat.

Melalui pantun leluhur kita terkesan lebih santun untuk menegur atau menasehati orang secara tidak langsung agar orang yang kita tuju tidak merasa malu atau dipojokkan.

Ciri-Ciri Pantun

Ciri-ciri pantun dapat dilihat berdasarkan bentuknya. Ciri-ciri ini tidak boleh diubah. Jika diubah, pantun tersebut akan menjadi seloka, gurindam, atau bentuk puisi lama lainnya.

Ciri-ciri pantun meliputi:

  • Tiap bait terdiri atas empat baris (larik).
  • Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata.
  • Rima akhir setiap baris adalah a-b-a-b.
  • Baris pertama dan kedua merupakan sampiran.
  • Baris ketiga dan keempat merupakan isi.

2.  Gurindam

Pengertian Gurindam

Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari negeri India. Istilah gurindam berasal dari bahasa India, yaitu kirindam berarti “mula mula” atau “perumpamaan”.

Fungsi Gurindam

Gurindam sarat nilai agama dan moral. Tak dimungkiri bahwa gurindam bagi orang dulu sangat penting dan dijadikan norma dalam kehidupan.

Ciri-Ciri gurindam

a) terdiri atas dua baris dalam sebait

b) tiap baris memiliki jumlah kata sekitar 10-14 kata

c) tiap baris memiliki rima sama atau bersajak A-A, B-B, C-C, dan seterusnya

d) merupakan satu kesatuan yang utuh.

e) baris pertama berisi soal, masalah, atau perjanjian

f) baris kedua berisi jawaban, akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama. (isi atau maksud gurindam terdapat pada baris kedua)

g) isi gurindam biasanya berupa nasihat, filosofi hidup atau kata-kata mutiara

3.  Syair

Pengertian Syair

Syair adalah salah satu puisi lama. Syair berasal dari Persia dan dibawa masuk ke Nusantara bersama dengan masuknya Islam ke Indonesia. Kata atau istilah syair berasal dari bahasa arab yaitu syi’ir atau syu’ur yang berarti “perasaan yang menyadari”, kemudian kata syu’ur berkembang menjadi syi’ru yang berarti puisi dalam pengetahuan umum.

Dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair negeri Arab.

Penyair yang berperan besar dalam membentuk syair khas Melayu adalah Hamzah Fansuri dengan karyanya, antara lain: Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir.

Ciri-Ciri Syair

  •  Setiap bait terdiri dari empat baris.
  •  Setiap baris terdiri atas 8-14 suku kata.
  •  Bersajak a-a-a-a.
  •  Semua baris adalah isi.
  • Bahasa yang digunakan biasanya berupa kiasan.

Struktur Puisi Rakyat

1. Struktur Pantun

Struktur penyajian pantun meliputi dua larik sampiran dan dua larik isi pantun. Dua larik pertama merupakan pengantar untuk masuk pada isi larik 3 dan 4.

Ambillah kapas menjadi benang

Ambillah benang menjadi kain

Kalau kamu ingin dikenang

Berbuat baiklah dengan orang lain

Makna/isi pada larik 1 dan 2 dengan larik 3 dan 4 tidak berhubungan.

2. Struktur Gurindam

Struktur penyajian gurindam dua larik merupakan isi yang berhubungan.

Apabila kelakuan baik berbudi

Hidup menjadi indah tak akan merugi

Larik 1 merupakan syarat terjadinya keadaan pada larik 2.

3. Struktur Syair

Struktur penyajian syair satu bait terdiri atas 4 larik. Pola rima sama (a-a-a-a).

Keempat larik syair merupakan isi dan terkait dengan bait-bait yang lain.

Unsur Kebahasaan Puisi Rakyat

1. Kalimat Perintah

Kalimat perintah adalah kalimat yang berisi atau bermaksud memberi perintah atau suruhan.

Contoh:

Buanglah sampah pada tempatnya

2. Kalimat saran

Kalimat saran adalah kalimat yang berisi tentang saran kepada orang lain untuk kebaikan orang lain (sebaiknya, seyogyanya).

Contoh:

Sebaiknya kau pikir dahulu

Demi keputusan yang tepat

3. Kalimat ajakan

Kalimat ajakan adalah kalimat yang berisi ajakan kepada orang lain untuk melakukan suatu perbuatan (ayo dan mari).

Contoh:

Marilah kita jaga agar lestari

4. Kalimat seru

Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan rasa hati, seperti kagum, heran, senang, dan sedih (alangkah, betapa, dan bukan main).

Contoh:

Alangkah indahnya alam Indonesia ini.

Wahai, pemuda Indonesia teruslah berjuang melestarikan budaya kita.

5. Kalimat larangan

Kalimat larangan adalah kalimat yang berisi larangan agar orang lain tidak melakukan kegiatan (jangan, hidari).

Contoh:

Janganlah berprasangka buruk kepada sesama

6. Kata Penghubung

Kata penghubung yang sering digunakan pada puisi rakyat:

Kata penghubung tujuan

Merupakan kata penghubung modalitas yang menjelaskan maksud dan tujuan suatu acara atau tindakan (supaya, untuk, agar, dan guna).

Kata penghubung sebab (kausal)

Menjelaskan bahwa suatu peristiwa atau tindakan terjadi atas sebab tertentu (sebab, sebab itu, karena, dan oleh karena itu).

Kata penghubung akibat

Konjungsi yang menggambarkan suatu peristiwa atau tindakan terjadi atas sebab peristiwa lain. Konjungsi yang dipakai adalah sehingga, sampai, dan akibatnya.

Kata penghubung syarat

Konjungsi syarat yang menjelaskan suau hal bias terpenuhi apabila syarat yang ada dipenuhi, atau dijalankan. Contoh kata yang digunakan adalah jika, jikalau, apabila, asalkan, kalau, dan bilamana.

7. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang memiliki satu subjek dan satu predikat.

Contoh

Pagi-pagi saya sarapan.

Kalimat majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki lebih dari satu subjek atau predikat. Kalimat majemuk terjadi dari penggabungan dua kalimat dasar atau lebih.

Kalimat majemuk bertingkat

Kalimat majemuk ini adalah kalimat yang terjadi dari beberapa kalimat tunggal yang kedudukannya tidak setara/sederajat.

Kalimat majemuk hubungan syarat

Kalimat majemuk ini ditandai dengan : jika, seandainya, asalkan,apabila, andaikan.

Contoh : 

Jika hidup bermalas-malasan, masa depan tak tentu arah.

Kalimat majemuk hubungan tujuan

Kalimat majemuk ini ditandai dengan : agar, supaya, biar.

Contoh : 

Agar hidup tercapai tujuan, hendaklah pemuda rajin belajar.

Kalimat majemuk konsensif

Kalimat majemuk ini ditandai dengan : walaupun, meskipun, biarpun, kendatipun, sungguhpun

Contoh : 

Walaupun belajar banyak godaan, tetaplah teguh mencapai harapan.

Kalimat majemuk hubungan penyebaban

Kalimat majemuk ini ditandai dengan : sebab, karena, oleh karena

Contoh : 

Hari ini aku bersedih karena berpisah dengan sahabat. 

Hari ini aku bersedih karena berpisah dengan orang terkasih.

Kalimat majemuk hubungan perbandingan

Kalimat majemuk ini ditandai dengan: ibarat, seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana, lebih baik.

Contoh : 

Belajar di waktu kecil seperti melukis di atas batu.

Kalimat majemuk hubungan akibat

Kalimat majemuk ini ditandai dengan : sehingga, sampai-sampai, maka

Contoh : 

Dian belajar begitu keras sehingga dapat memenangi olimpiade itu.

Kalimat majemuk hubungan cara

Contoh : 

Dengan cara menjual koran, dia mendapatkan uang untuk hidup.

Dengan berpikir cermat generasi muda menggapai asa.

Contoh Puisi Rakyat

Contoh Pantun

Pantun 1

Air surut memungut bayam,

Sayur diisi ke dalam kantung;

Jangan diikuti tabiat ayam,

Bertelur sebiji riuh sekampung.

Pantun 2

Baik bergalas baik tidak,

Buli-buli bertali benang;

Baik berbalas baik tidak,

Asal budi sama dikenang.

Pantun 3

Ikan nila dimakan berang-berang,

Katak hijau melompat ke kiri;

Jika berada di rantau orang,

Baik-baik membawa diri.

Pantun 4

Akar keladi melilit selasih,

Selasih tumbuh di hujung taman;

kalungan budi junjungan kasih,

Mesra kenangan sepanjang zaman

Contoh Gurindam

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai

lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

 

Cahari olehmu akan sahabat,

yang boleh dijadikan obat.

 

Cahari olehmu akan guru,

yang boleh tahukan tiap seteru.

 

Jika hendak mengenal orang berbangsa,

lihat kepada budi dan bahasa.

 

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,

sangat memeliharakan yang sia-sia.

 

Jika hendak mengenal orang mulia,

lihatlah kepada kelakuan dia.

Contoh Syair

Syair perahu

(Karya: Hamzah Fansuri)

Inilah gerangan suatu madah

Mengarangkan syair terlalu indah

Membetuli jalan tempat berpindah

Di sanalah iktikat diperbetuli sudah

 

Wahai muda kenali dirimu

Ialah perahu tamsil hidupmu

Tiadalah berapa lama hidupmu

Ke akhirat jua kekal hidupmu

 

Hai muda arif budiman

Hasilkan kemudi dengan pedoman

Alat perahumu jua kerjakan

Itulah jalan membetuli insan

 

Perteguh jua alat perahumu

Hasilkan bekal air dan kayu

Dayung pengayuh taruh di situ

Supaya laju perahumu itu

 

Sudahlah hasil kayu dan ayar

Angkatlah pula sauh dan layar

Pada beras bekal jantanlah taksir

Niscaya sempurna jalan yang kabir

Nah, demikianlah materi puisi rakyat bahasa Indonesia kelas 7, semoga bermanfaat ya!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like