Materi Teks Drama Bahasa Indonesia Kelas 8: Pengertian, Ciri, Jenis Struktur, Unsur Kebahasaan, & Contoh

Materi ketujuh yang dibahas dalam pelajaran bahasa Indonesia kelas 8 semseter genap adalah materi tentang Teks Perusasif. Materi Teks Drama bahasa Indonesia ini sangat penting dibekali kepada siswa agar mampu mengenal dan mendalami unsur-unsur drama (tradisional dan modern). 

Nah, dalam tulisan ini, saya akan coba membagikan materi tentang teks perusasif bahasa Indonesia kelas 8 berdasarkan buku teks resmi yang dikeluarkan oleh Kemendikbud.  Semoga ini dapat membantu Anda semua.

Materi Teks Drama Bahasa Indonesia

Materi yang akan kita bahas kali ini ruang lingkupnya cukup komprehensif. Mulai dari pengertian Teks Drama, ciri-ciri, jenis, struktur, unsur kebahasaan, dan contoh dari teks perusasif.

Pengertian Teks Drama 

Teks drama adalah teks yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku (akting) yang dipentaskan. Drama juga diartikan sebagai karya seni yang dipentaskan.

Ciri-ciri Teks Drama

Berikut ini ciri teks drama: 

(1) Berupa cerita.

(2) Berbentuk dialog.

(3) Bertujuan untuk dipentaskan

Jenis-Jenis Teks Drama

Untuk jenis teks drama, kita bisa membaginya berdasarkan beberapa sudut pandang.

Berdasarkan penyajian kisah drama

Tragedi

Isinya banyak bercerita tentang kesedihan.

Komedi

Isinya cerita tentang hal hal yang mengandung kelucuan dengan maksud menghibur.

Tragekomedi

Isinya cerita tentang perpaduan drama tragedi dan drama komedi.

Opera

Isi penyampaian dialog dalam drama ini menggunakan nyanyian atau musik

Melodrama

Penyapaian dialognya dalam drama ini diucapkan dan diiringi dengan suara musik atau lagu.

Farce

Drama ini menyerupai dengan drama dagelan tetapi tidak sepenuhnya sama, ada perbedaan ketika dalam penyampaian.

Tablo

Drama ini lebih dominan dengan melakukan dengan gerak dan para pemainnya tidak mengeluarkan ucapan dialog.

Sendratari

Drama ini penggabungan antara seni drama dan seni tari.

Berdasarkan Dengan Sarana Pementasan

Drama Panggung

Drama yang dimainkan oleh para aktor yang dipentaskan diatas panggung.

Drama radio

Drama ini tidak bisa tonton secara langsung, tetapi hanya bisa didengar oleh penimat.

Drama televisi

Drama ini hampir sama dengan drama panggung, namun tidak bisa diraba dan hanya bisa ditonton saja.

Drama film

Drama ini menggunakan media layar lebar serta biasanya dipertunjukkan di bioskop.

Drama wayang

Drama ini ketika pertunjukan diiringi oleh pagelaran wayang.

Drama boneka

Drama ini seorang tokoh di digambarkan dengan oneka yang dimainkan oleh bebrapan orang.

Jenis drama berdasarkan masanya

Drama tradisional

Drama tradisional adalah drama yang pada umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewi-dewi, kejadian luar biasa, dll.Pada umumnya drama ini dipentaskan tidak menggunakan naskah.

Drama modern

Drama modern adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari. Pada umumnya drama ini dipentaskan dengan menggunkan naskah.

Unsur-Unsur Teks Drama 

a. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita. 

Alur drama mencakup bagian-bagian:

(1) pengenalan cerita; 

(2) konflik awal; 

(3) perkembangan konflik; dan 

(4) penyelesaian.

b. Penokohan

Penokohan merupakan cara pengarang di dalam menggambarkan karakter tokoh. Dalam pementasan drama, drama mempunyai posisi yang penting. Tokohlah yang mengaktualisasikan naskah drama di atas pentas. 

Tokoh yang didukung oleh latar peristiwa dan aspek-aspek lainnya akan menampilkan cerita dan pesan-pesan yang ingin disampaikan. 

Berdasarkan perannya, tokoh terbagi atas tokoh utama dan tokoh pembantu.

(1) Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan drama.

(2) Tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita dan memiliki kaitan dengan tokoh utama. 

Tokoh utama setidaknya ditandai oleh empat hal, yaitu (1) paling sering muncul dalam setiap adegan; (2) menjadi sentral atau pusat perhatian tokoh- tokoh yang lain; (3) kejadian-kejadian yang melibatkan tokoh lain selalu dapat dihubungkan dengan peran tokoh utama; dan (4) dialog-dialog yang dilibatkan tokoh-tokoh lain selalu berkaitan dengan peran tokoh utama.

Dari segi perwatakannya, tokoh dan perannya dalam pementasan drama terdiri empat macam, yaitu tokoh berkembang, tokoh pembantu, tokoh statis, dan tokoh serbabisa.

1) Tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perkembangan nasib atau watak selama pertunjukan. Misalnya, tokoh yang awalnya seorang yang baik, pada akhirnya menjadi seorang yang jahat.

2) Tokoh pembantu adalah tokoh yang diperbantukan untuk menyertai, melayani, atau mendukung kehadiran tokoh utama. Tokoh pembantu memerankan suatu bagian penting dalam drama, tetapi fungsinya tetap sebagai tokoh pembantu.

 3) Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami perubahan karakter dari awal hingga akhir dalam dalam suatu drama. Misalnya, seorang tokoh yang berkarakter jahat dari awal drama akan tetap bersifat jahat di akhir drama.

4) Tokoh serbabisa adalah tokoh yang dapat berperan sebagai tokoh lain. Misalnya, tokoh yang berperan sebagai seorang raja, tetapi ia juga berperan sebagai seorang pengemis untuk mengetahui kehidupan rakyatnya.

c. Dialog

Dalam sebuah dialog itu sendiri, ada tiga elemen yang tidak boleh dilupakan.

Ketiga elemen tersebut adalah tokoh, wawancang, dan kramagung.

1) Tokoh adalah pelaku yang mempunyai peran yang lebih dibandingkan pelaku-pelaku lain, sifatnya bisa protagonis atau antagonis.

2) Wawancang adalah dialog atau percakapan yang harus diucapkan oleh tokoh cerita.

3) Kramagung adalah petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan oleh tokoh. Dalam naskah drama, kramagung dituliskan dalam tanda kurung (biasanya dicetak miring).

d. Latar

Latar adalah keterangan mengenai ruang dan waktu. Latar juga dapat dinyatakan melalui percakapan para tokohnya. Dalam pementasannya, latar dapat dinyatakan dalam tata panggung ataupun tata cahaya.

e.Bahasa

Bahasa merupakan media komunikasi antartokoh. Bahasa juga bisa menggambarkan watak tokoh, latar, ataupun peristiwa yang sedang terjadi.

Apabila disajikan dalam bentuk pementasan, drama memiliki unsur lainnya, yakni sarana pementasan, seperti panggung, kostum, pencahayaan, dan tata suara.

Struktur Teks Drama 

Struktur drama yang berbentuk alur pada umumnya tersusun sebagai berikut.

a. Prolog 

Prolog merupakan pembukaan atau peristiwa pendahuluan dalam sebuah drama atau sandiwara. Bagian ini biasanya disampaikan oleh tukang cerita (dalang) untuk menjelaskan gambaran para pemain, gambaran latar, dan sebagainya.

b. Dialog 

Dialog merupakan media kiasan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak manusia, problematika yang dihadapi, dan cara manusia dapat menyelesaikan persoalan hidupnya.

Di dalam dialog tersaji urutan peristiwa yang dimulai dengan, orientasi, komplikasi, sampai dengan resolusi.

1) Orientasi, adalah bagian awal cerita yang menggambarkan situasi yang sedang sudah atau sedang terjadi.

2) Komplikasi, berisi tentang konflik-konflik dan pengembangannya: gangguan-gangguan, halangan-halangan dalam mencapai tujuan, atau kekeliruan yang dialami tokoh utamanya. Pada bagian ini pula dapat diketahui watak tokoh utama (yang menyangkut protagonis dan antagonisnya).

3) Resolusi, adalah bagian klimaks (turning point) dari drama, berupa babak akhir cerita yang menggambarkan penyelesaian atas konflik- konflik yang dialami para tokohnya. Resolusi haruslah berlangsung secara logis dan memiliki kaitan yang wajar dengan kejadian sebelumnya.

c. Epilog 

Epilog adalah bagian terakhir dari sebuah drama yang berfungsi untuk menyampaikan inti sari cerita atau menafsirkan maksud cerita oleh salah seorang aktor atau dalang pada akhir cerita. 

Unsur Kebahasaan Teks Drama 

Kalimat Langsung

Kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks drama hampir semuanya berupa dialog atau tuturan langsung para tokohnya. Kalimat langsung dalam drama lazimnya diapit oleh dua tanda petik (”   ”).

Kata Ganti Orang Ketiga

Teks drama menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau epilognya. Karena melibatkan banyak pelaku (tokoh), kata ganti yang lazim digunakan adalah mereka.

Kata Ganti Orang Pertama dan Kedua

Lain halnya dengan bagian dialognya, yang kata gantinya adalah kata orang pertama dan kedua. Mungkin juga digunakan kata-kata sapaan. Seperti yang tampak pada contoh teks drama tersebut bahwa kata-kata ganti yang dimaksud adalah aku, saya, kami, kita, kamu. Adapun kata sapaan, misalnya, anak-anak, ibu.

Kosakata Percakapan

Sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, dialog dalam teks drama juga tidak lepas dari munculnya kata-kata tidak baku dan kosakata percakapan, seperti kok, sih, dong, oh. 

Kalimat Seru, Suruhan, Pertanyaan

Di dalam teks drama juga banyak ditemukan kalimat seru, suruhan, pertanyaan. Perhatikan contoh berikut!

1. Selamat pagi, Anak-anak!

2. Selamat pagi, Buuuuuu!

3. Wah…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda!

4. Arga, kenapa sih kamu selalu usil?

5. Kenapa kamu selalu mengejek aku?

6. Memangnya kamu suka kalau diejek?

7. Aduh…maaf deh! Kamu marah ya, In?

Konjungsi Temporal

Teks drama juga banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi temporal), seperti: sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian.

Kata Kerja yang Menggambarkan Suatu Peristiwa

Di dalam teks drama juga banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa  yang terjadi, seperti menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat.

Kata Kerja yang Menyatakan Sesuatu  yang  Dipikirkan atau Dirasakan

Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu  yang  dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh, seperti : merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami.

Kata Sifat untuk Menggambarkan Tokoh, Tempat, atau Suasana

Kata-kata yang dimaksud, misalnya, ramai, bersih, baik, gagah, kuat.

Contoh Teks Drama 

Ketika Pangeran Mencari Istri

Suatu ketika, terdapat sebuah kerajaan yang diperintah seorang raja yang bijaksana. Namanya Raja Henry. Raja Henry memiliki seorang anak bernama Pangeran Arthur. Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda pengembara. Ia datang ke kerajaan dan menemui Pangeran yang sedang melamun di taman istana.

Pengembara : ”Selamat pagi, Pangeran Arthur!” 

Pangeran Arthur      : ”Selamat pagi. Siapakah kau?”

Pengembara : ”Aku pengembara biasa. Namaku Theo. Kudengar, Pangeran

sedang bingung memilih calon istri?”

Pangeran Arthur      : ”Ya, aku bingung sekali. Semua wanita yang dikenalkan padaku, tidak ada yang menarik hati. Ada yang cantik, tapi berkulit hitam. Ada yang putih, tetapi bertubuh pendek. Ada yang bertubuh semampai, berwajah cantik, tetapi tidak bisa membaca. Aduuh!”

Pengembara : ”Hmm, bagaimana kalau kuajak Pangeran berjalan-jalan sebentar. Siapa tahu di perjalanan nanti Pangeran bisa menemukan jalan keluar.”

Pangeran Arthur      : ”Ooh, baiklah.”

Mereka berdua lalu berjalan-jalan ke luar istana. Theo mengajak Pangeran ke daerah pantai. Di sana mereka berbincang-bincang dengan seorang nelayan. Tak lama kemudian nelayan itu mengajak pangeran dan Theo ke rumahnya.

Nelayan :  ”Istriku  sedang  memasak  ikan  bakar  yang  lezat.  Pasti Pangeran menyukainya.”

Istri nelayan : (Datang dari dapur untuk menghidangkan ikan bakar). ”Silakan Tuan-tuan nikmati makanan ini.”(Kembali lagi ke dapur)

Pengembara :  ”Wahai,  Nelayan!  Mengapa  engkau  memilih  istri  yang bertubuh pendek?”

Nelayan : (Tersenyum). ”Aku mencintainya. Lagi pula, walau tubuhnya pendek, hatinya sangat baik. Ia pun pandai memasak.”

Pangeran Arthur : (Mengangguk-angguk)

Selesai makan, Pangeran Arthur dan pengembara itu berterima kasih dan melanjutkan perjalanan. Kini Theo dan Pangeran Arthur sampai di rumah seorang petani. Di sana mereka menumpang istirahat. Mereka beberapa saat bercakap dengan Pak Tani. Lalu, keluarlah istri Pak Tani menyuguhkan minuman dan kue- kue kecil. Bu Tani bertubuh sangat gemuk. Pipinya tembam dan dagunya berlipat- lipat. Kemudian, Bu Tani pergi ke sawah,

Pengembara : ”Pak Tani yang baik hati. Mengapa kau memilih istri yang gemuk?”

Pak Tani : (Tersenyum). ”Iaadalahwanitayangrajin. Lihatlah, rumahku bersih sekali, bukan? Setiap hari ia membersihkannya dengan teliti. Lagipula, aku sangat mencintainya.”

Pangeran Arthur : (Mengangguk-angguk).

Pangeran dan Theo lalu pamit, dan berjalan pulang ke Istana. Setibanya di Istana, mereka bertemu seorang pelayan dan istrinya. Pelayan itu amat pendiam, sedangkan istrinya cerewet sekali.

Pengembara :  ”Pelayan,  mengapa  kau  mau  beristrikan  wanita  sebawel dia?”

Pelayan : ”Walaupun bawel, dia sangat memperhatikanku. Dan aku sangat mencintainya.”

Pangeran Arthur      :   (Mengangguk-angguk).   ”Kini   aku   mengerti.   Tak   ada manusia yang sempurna. Begitu pula dengan calon istriku. Yang penting, aku mencintainya dan hatinya baik.”

Pengembara : (Bernapas lega, lalu lalu membuka rambutnya yang ternyata palsu. Rambut aslinya ternyata panjang dan keemasan. Ia juga membuka kumis dan jenggot palsunya. Kini di hadapan Pangeran ada seorang puteri yang cantik jelita.) ”Pangeran, sebenarnya aku Puteri Rosa dari negeri tetangga. Ibunda Pangeran mengundangku ke sini. Dan menyuruhku melakukan semua hal tadi. Mungkin ibundamu ingin menyadarkanmu.”

Pangeran Arthur      : (Sangat terkejut). ”Akhirnya aku dapat menemukan wanita yang cocok untuk menjadi istriku.”

Pangeran Arthur dan Puteri Rosa akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.

(Disadur dari cerita Sa’adutul Hurriyah dalam Bobo, No. 8/XXVIII)

Demikianlah materi teks drama kelas 8, semoga bermanfaat ya!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like