Materi ketujuh yang dibahas dalam pelajaran bahasa Indonesia kelas 11 semseter genap adalah materi tentang Teks Resensi. Materi Teks Resensi bahasa Indonesia ini sangat penting dibekali kepada siswa agar mampu meningkatkan sikap kritis dan menguasai keahalian mengulas, menilai, serta mengevaluasi suatu karya. 

Nah, dalam tulisan ini, saya akan coba membagikan materi tentang Teks Resensi bahasa Indonesia kelas 8 berdasarkan buku teks resmi yang dikeluarkan oleh Kemendikbud.  Semoga ini dapat membantu Anda semua.

Materi Teks Resensi Bahasa Indonesia

Materi yang akan kita bahas kali ini ruang lingkupnya cukup komprehensif. Mulai dari pengertian Teks Resensi, tujuan, jenis, unsur, struktur, unsur kebahasaan, cara menulis, dan contoh dari Teks Resensi.

Pengertian Teks Resensi 

Resensi adalah ulasan atau penilaian atau pembicaraan mengenai suatu karya baik itu buku, film, atau karya lain. Tugas penulis resensi adalah memberikan gambaran kepada pembaca mengenai suatu karya apakah layak dibaca atau tidak.

Hal-hal yang dapat ditanggapi dalam resensi ialah kualitas isi, penampilan, unsur-unsur, bahasa, dan manfaat bagi pembaca.

Tujuan Teks Resensi 

Tujuan utama resensi buku ialah memberikan tanggapan atas isi buku sebagai informasi kepada calon pembaca buku itu. Tanggapan itu dapat memotivasi pembaca resensi atau menjadi tidak berminat membaca buku yang diresensi itu.

Di samping itu, resensi buku merupakan umpan balik bagi penulis buku untuk menyempurnakan isi buku tersebut pada edisi terbitan berikutnya. 

Tujuan meresensi buku hendaknya menjadi acuan bagi penulis resensi dalam mengembangkan resensi yang disusunnya dan juga sebagai salah satu kriteria bagi media yang akan memublikasikannya. 

Jenis-Jenis Teks Resensi 

Berdasarkan objek karyanya, resensi terdiri atas bermacam-macam jenis. Ada resensi untuk novel; ada pula yang berupa kumpulan cerpen.

Berdasarkan objek tanggapannya, ada pula yang berupa flm, drama, lagu, buku ilmu pengetahuan, lukisan, dan karya-karya lainnya.

Unsur-Unsur Teks Resensi 

Setiap jenis resensi bisa jadi isinya berbeda tergantung objek yang diulas. Pada kesempatan kali ini, kami akan coba mengulas unsur teks resensi jika objeknya adalah buku fiksi: 

1. Tema

a. Apakah tema cerita itu?

b. Apakah tema itu sah dan benar sebagai kebenaran umum?

2. Alur

a. Pola apakah yang digunakan pengarang dalam membangun alur ceritanya itu?

b. Peristiwa-peristiwa apakah yang telah dipilih untuk melayani tema cerita itu?

c. Apakah terdapat hubungan wajar dan baik antara tema dengan peristiwa-peristiwa itu?

d. Mengapa suatu peristiwa lebih menonjol daripada yang lain-lainnya?

e. Apakah peristiwa-peristiwa itu disusun secara rapi dan baik sehingga dapat memberikan suatu penekanan yang penting dan berguna?

f. Apakah peristiwa-peristiwa itu wajar dan hidup?

g. Bagaimana peristiwa-peristiwa itu mengantarkan perjalanan hidup tokoh utamanya?

3. Latar

a. Di mana dan kapankah peristiwa itu terjadi?

b. Bagaimana peranan latar tersebut dalam keseluruhan cerita: apakah latar tersebut menguatkan atau justru melemahkan cerita?

4. Penokohan

a. Bagaimana cara pengarang dalam menampilkan karakter tokoh- tokohnya?

b. Apakah karakter tokoh-tokoh itu wajar atau terkesan dibuat-buat?

c. Bagaimana hubungan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya?

d. Bagaimana peranan karakter tokoh-tokoh tersebut dalam men-dukung tema dan menghidupkan alur cerita?

5. Sudut pandang

a. Dari sudut sudut pandang siapakah cerita itu diceritakan?

b. Apakah sudut pandang itu dijalankan dengan konsekuen dalam seluruh cerita?

6. Amanat

a. Apa amanat cerita itu?

b. Bagaimana cara pengarang menyampaikan amanatnya, bersifat menggurui atau tidak?

7. Bahasa

a. Apakah bahasa cerita itu tajam, lincah, dan sugestif?

b. Gaya bahasa apakah yang dipergunakan dalam cerita itu?

c. Apakah penggunaan gaya bahasa itu tepat, wajar, dan hidup?

Struktur Teks Resensi

Adapun struktur penyajian resensi adalah sebagai berikut.

1. Identitas karya 

Yakni meliputi judul, nama penulis, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku.

2. ikhtisar atau ringkasan

Berisi hal hal menarik dari suatu karya, atau gambaran umum isi karya yang diulas.

3. Penilaian karya

Isinya meliputi kelebihan dan kelemahannya. Penilaian tersebut sebaiknya meluputi unsur-unsur buku (semisal novel) itu secara lengkap, yakni tema, alur, penokohan, latar, gaya bahasa, amanat, dan kepengarangan.

4. Simpulan

Menyimpulkan resensi yang disajikan.

Unsur Kebahasaan Teks Resensi 

Berikut unsur kebahasaan dari Teks Resensi:

  1. Banyak menggunakan konjungsi penerang, seperti bahwa, yakni, yaitu.
  2. Banyak menggunakan konjungsi temporal: sejak, semenjak, kemudian, akhirnya.
  3. Banyak menggunakan konjungsi penyebababan: karena, sebab.
  4. Menggunakan pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi pada bagian akhir teks. Hal ini ditandai oleh kata jangan, harus, hendaknya,

Cara Menulis Teks Resensi

Menulis resensi tidaklah mudah. Untuk melakukan kegiatan ini diperlukan beberapa persyaratan. Berikut persyaratan tersebut.

1. Penulis harus memiliki pengetahuan di bidangnya. Artinya, jika seorang penulis akan meresensi sebuah novel, maka ia harus memiliki pengetahuan tentang teori novel dan perkembangannya.

2. Penulis harus memiliki kemampuan menganalisis. Sebuah buku novel terdiri atas unsur internal dan eksternal atau yang lebih dikenal dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Seorang penulis harus mampu menggali unsur-unsur tersebut.

3. Seorang penulis juga dituntut memiliki pengetahuan dalam acuan yang sebanding. Artinya, penulis akan membandingkan sebuah karya lain yang sejenis. Dengan demikian, ia akan mampu menemukan kelemahan dan keunggulan sebuah karya.

Contoh Teks Resensi 

Ada beberapa contoh Teks Resensi yang bisa kamu pelajari dan sudah kami siapkan.

Contoh Teks Resensi Perahu Kertas

Judul : Perahu Kertas

Penulis : Dee (Dewi Lestari)

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun Terbit : Februari, 2010

Jumlah Halaman : 444 halaman

Kugy dan Keenan. Dua manusia yang dapat diibaratkan seperti bumi dan langit. Kugy memiliki penampilan berantakan namun ia memiliki imajinasi yang tinggi, sedangkan Keenan merupakan sosok yang cerdas dan pelukis hebat nan artistik. Saat keduanya bertemu, keduanya menjadi semakin dekat. Namun, apa daya? Kugy telah memiliki seorang cowok yang tidak mudah ia tinggalkan. Dalam hati Keenan, terbersit rasa cinta itu tetapi ia juga berusaha untuk menampiknya. 

Wanda dan Keenan seperti sosok yang senasib. Keduanya berbakat menjadi pelukis namun kedua orang tua mereka jugalah yang tidak setuju karena orang tua mereka berpendapat bahwa lukisan tidak bisa menghasilkan uang untuk hidup. Karena merasa senasib, hubungan keduanya semakin dekat. Namun, saat Kugy melihat hal itu, ia seperti cemburu namun ia juga berusaha untuk menampiknya. Toh, dia juga sudah punya cowok. Entah apa yang ada dibenak Wanda hingga ia mau melakukan apa saja demi menunjukkan rasa cintanya pada Keenan. Ia memang berhasil! Ia memang berhasil membuat Keenan menjadi kekasihnya sekarang.

Saat mendengar bahwa Wanda dan Keenan sudah menjadi sepasang kekasih, Kugy seakan ditombak peluru tepat pada dadanya. Kugy tidak tahu apa yang ia rasakan. Kugy bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, ia memiliki Ojos kekasihnya, namun di satu sisi ia merasa ada perasaan spesial terhadap Keenan.

Ojos mulai merasakan perubahan sikap pada Kugy. Ia merasa Kugy sudah tidak peduli lagi padanya. Hingga akhirnya, hubungan mereka kandas. Sementara itu, hubungan Wanda dan Keenan juga jauh dari kata harmonis. Wanda berpikir, Keenan tidak sepenuhnya mencintainya hingga mereka berdua menghadapi konflik besar dan akhirnya mereka kandas juga.

Saat dua pasang kekasih itu tidak lagi menjalin cinta. Kugy memutuskan untuk mengambil mata kuliah sebanyak-banyaknya guna menyibukkan diri. Alhasil, ia bisa lulus lebih cepat tapi tetap dengan nilai yang memuaskan A+. Sementara itu, Keenan malah memutuskan untuk hidup sendiri jauh dari keluarganya yakni di Ubud, Bali. Ia mengambil keputusan besar untuk hidup sendiri dan dengan uang hasil keringatnya sendiri melalui melukis. Awal pahit sempat ia kecap namun tak lama karena kurang lebih satu tahun kemudian, ia bisa dibilang telah sukses menjalankan usaha melukisnya.

Setelah lulus, Kugy langsung mendapatkan pekerjaan dan parahnya lagi ia juga mendapatkan pacar baru, yakni atasannya dia sendiri “Pak Remi” namanya. Keenan juga tidak mau kalah! Ia menemukan pengganti Wanda, “Luhde”. Saat usaha lukis Keenan semakin sukses serta hubungan cintanya dengan Luhde sedang manis-manisnya, Keenan terpaksa harus kembali ke Jakarta karena mendapat kabar bahwa ayahnya terkena penyakit stroke.

Sementara itu, Kugy yang telah mendapatkan pekerjaan yang nyaman memilih untuk mengundurkan diri karena ia merasa pekerjaan yang dilakukannya bukan jiwanya. Walaupun Keenan melakukan hubungan jarak jauh dengan Luhde dan Kugy tidak bisa selalu bertemu tiap hari dengan Remi, hubungan cinta mereka baik-baik saja. Mereka merasa telah menemukan cinta masing-masing. Namun, hal tersebut tidak bertahan lama. Luhde merasa hati Keenan tidak sepenuhnya untuk dirinya dan Remi-pun juga merasa seperti itu. Pada akhirnya, lukisan dan dongeng itu bersatu serta hati dan impian mereka bertemu.

Contoh Teks Resensi Novel

Petualangan Bocah di Zaman Jepang

Judul Novel : Saksi Mata

Pengarang : Suparto Brata

Penerbit : Penerbit Buku KOMPAS

Tebal : x + 434 halaman

Setelah membaca novel yang sangat tebal ini, saya jadi teringat dengan novel Mencoba Tidak Menyerah-nya Yudhistira A.N. Massardhie dan juga novel Ca Bau Kan-nya Remy Sylado. Dalam novel Mencoba Tidak Menyerah, yang menjadi tokoh sentralnya adalah bocah laki-laki berusia sepuluh tahun, sedangkan dalam novel Ca Bau Kan yang telah diangkat ke layar lebar, digambarkan bagaimana keadaan Jakarta, kota era zaman penjajahan Belanda dengan sangat detail. Lalu apa hubungannya dengan novel Saksi Mata karya Suparto Brata ini?

Dalam Saksi Mata, yang menjadi “jagoan” alias tokoh utamanya adalah bocah berusia dua belas tahun bernama Kuntara, seorang pelajar sekolah rakyat Mohan-gakko dan mengambil latar Kota Surabaya pada zaman penjajahan Jepang dengan penggambaran yang sangat apik, detail dan sangat memikat. Novel setebal 434 halaman ini sendiri sebenarnya merupakan cerita bersambung yang dimuat di Harian Kompas pada rentang waktu 2 November 1997 hingga 2 April 1998.

Kisah berawal saat Kuntara secara tidak sengaja memergoki buliknya Raden Ajeng Rumsari alias Bulik Rum tengah berduaan dengan Wiradad di sebuah bungker perlindungan-belakangan baru diketahui oleh Kuntara kalau Wiradad adalah suami sah dari Bulik Rum. Hal itu membuat perasaan hatinya berkecamuk. Kuntara pun heran dengan apa yang dilakukan oleh Bulik Rum yang selama ini selalu dihormatinya. Namun ia bisa mengerti kalau ternyata Bulik Rum yang cantik ini menyembunyikan sejuta kisah yang tak bakal disangka-sangka.

Bulik Rum adalah “pegawai” tuan Ichiro Nishizumi, meski pekerjaan sehari-harinya bekerja di pabrik karung Asko. Sebenarnya Bulik Rum sudah menikah dengan Wiradad tetapi tuan Ichiro Nishizumi tidak peduli dengan semua itu dan memboyongnya ke Surabaya. Baik Wiradad maupun ayah Bulik Rum sendiri tidak mampu mencegah keinginan Ichiro Nishizawa yang sangat berkuasa ini. Akan tetapi, Wiradad tidak mau menyerah begitu saja dan segera menyusul Bulik Rum ke Surabaya.

Saat Wiradad akan bertemu dengan Bulik Rum inilah terjadi sesuatu yang di luar dugaan. Okada yang gelap mata ini segera mengambil samurai kecilnya hingga akhirnya Bulik Rum menghembuskan nafas terakhir di bungker perlindungan. Okada yang selama ini sangat dihormati oleh Kuntara tenyata memiliki tabiat tidak beda dengan Tuan Ichiro Nishizawa.

Dari sinilah awal kisah “petualangan” Kuntara dalam mengungkap kasus hilangnya Bulik Rum hingga upaya untuk membalas dendamnya bersama dengan Wiradad kepada tuan Ichiro Nishizawa dan juga Okada. Sejak kasus hilangnya Bulik Rum ini, keluarga Suryohartanan–tempat Kuntara dan ibunya menetap–mulai terlibat dengan berbagai kejadian yang mengikutinya. Kuntara yang tidak menginginkan keluarga ini terlibat dengan permasalahan yang terjadi dengan sengaja menyembunyikannya. Dengan segala “kecerdikan” ala detektif cilik Lima Sekawan Kuntara berupaya menyelesaikan kasus ini bersama dengan Wiradad.

***

Sangat jarang sekali novel-novel “serius” di Indonesia yang terbit dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir yang menggunakan tokoh utama seorang anak kecil, selain dari novel Mencoba Tidak Menyerah-nya Yudhistira ANM, mungkin hanya novel Ketika Lampu Berwarna Merah karya cerpenis Hamsad Rangkuti. Adalah hal yang menarik apabila membaca cerita sebuah novel “serius” dengan tokoh utama seorang anak kecil karena ia memiliki perspektif atau pandangan berbeda mengenai dunia dan segala sesuatu yang terjadi, bila dibandingkan dengan orang dewasa. Kita bisa membayangkan bagaimana seorang Kuntara yang baru berusia dua belas tahun menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi dengan diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya pada masa penjajahan Jepang dan dengan “kepintarannya” ia mencoba untuk memecahkan persoalan tersebut. Meski menarik tetap saja akan memunculkan pertanyaan bagaimana bisa bocah dua belas tahun menjadi “sangat pintar”?

Keunggulan lain dari novel ini adalah penggambaran suasana yang detail mengenai Kota Surabaya pada tahun 1944 (zaman pendudukan Jepang), malah ada lampiran petanya segala! Suasana kota Surabaya di zaman itu juga “direkam” dengan indah oleh Suparto Brata. Kita bisa membayangkan bagaimanan keadaan kampung SS Pacarkeling yang kala itu masih “berbau” Hindia Belanda karena nama-nama jalannya masih menggunakan nama- nama Belanda. Juga tentang bungker-bungker–perlindungan yang digunakan untuk bersembunyi kala ada serangan udara–kebetulan saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia II. Tidak ketinggalan juga tentang stasiun kereta api Gubeng yang tersohor itu.

Sebagai arek Suroboyo yang tentunya mengenal seluk beluk kota Buaya ini, Suparto Brata jelas tidak mengalami kesulitan untuk melukiskan keadaan ini. Apalagi ia adalah penulis yang hidup dalam tiga zaman, kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang dan era kemerdekaan. Penggambaran suasana yang detail ini juga berkonsekuensi kepada cerita yang cukup panjang meski tetap tanpa adanya maksud untuk bertele-tele.

Novel ini juga diperkaya dengan adanya kosakata dan lagu-lagu Jepang yang makin menghidupkan suasana zaman pendudukan balatentar Jepang di Indonesia. Namun, uniknya, tidak ada satupun terjemahan untuk kosakata Jepang tersebut. Jadi, bagi yang tidak mengerti bahasa Jepang, seperti saya juga, ya tebak-tebak saja sendiri.

(Sumber: Dodiek Adyttya Dwiwa dalam Cybersastra.net dengan perubahan)

Nah, demikianlah materi teks resensi bahasa Indonesia kelas 11 yang bisa kami sajikan, semoga bermanfaat.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like