Materi keenam yang dibahas dalam pelajaran bahasa Indonesia kelas 11 semseter genap adalah materi tentang Teks Karya Ilmiah. Materi Teks Karya Ilmiah bahasa Indonesia ini sangat penting dibekali kepada siswa agar dapat melatih keterampilan dasar dalam melakukan penelitian.

Nah, dalam tulisan ini, saya akan coba membagikan materi tentang Teks Karya Ilmiah bahasa Indonesia kelas 11 berdasarkan buku teks resmi yang dikeluarkan oleh Kemendikbud.  Semoga ini dapat membantu Anda semua.

Materi Teks Karya Ilmiah Bahasa Indonesia

Materi yang akan kita bahas kali ini ruang lingkupnya cukup komprehensif. Mulai dari pengertian Teks Karya Ilmiah, jenis, tujuan, struktur, unsur kebahasaan, langkah-langkah menulis, dan contoh dari Teks Karya Ilmiah.

Pengertian Teks Karya Ilmiah 

Karya Tulis Ilmiah atau disingkat Karya Ilmiah (Dalam Bahasa Inggris Scientific Paper) adalah laporan tertulis atau tulisan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian mengenai suatu masalah yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi etika dan kaidah keilmuan yang ditaati dan dikukuhkan oleh masyarakat umum.

Jenis Teks Karya Ilmiah

Karya ilmiah dapat ditulis dalam berbagai bentuk penyajian. Secara umum, bentuk penyajian karya ilmiah terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu bentuk populer, bentuk semiformal, dan bentuk formal.

1. Bentuk Populer

Karya ilmiah bentuk ini sering disebut karya ilmiah populer. Bentuknya manasuka. Karya ilmiah bentuk ini bisa diungkapkan dalam bentuk karya ringkas. Ragam bahasanya bersifat santai (populer). Karya ilmiah pupuler umumnya dijumpai dalam media massa, seperti koran atau majalah. Istilah populer digunakan untuk menyatakan topik yang akrab, menyenangkan bagi populus (rakyat) atau disukai oleh orang kebanyakan karena gayanya yang menarik dan bahasanya mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya sederhana, lancar, namun tidak berupa senda gurau dan tidak pula bersifat fantasi (rekaan).

2. Bentuk Semiformal

Secara garis besar, karya ilmiah bentuk ini terdiri atas:

  •  halaman judul,
  •  kata pengantar,
  •  daftar isi,
  •  pendahuluan,
  •  pembahasan,
  •  simpulan, dan
  •  daftar pustaka.

Bentuk karya ilmiah semacam itu, umumnya digunakan dalam berbagai jenis laporan biasa dan makalah.

3. Bentuk Formal

Karya ilmiah bentuk formal disusun dengan memenuhi unsur-unsur kelengkapan akademis secara lengkap, seperti dalam skripsi, tesis, atau disertasi. Unsur-unsur karya ilmiah bentuk formal, meliputi hal-hal sebagai berikut.

  •  Judul
  •  Tim pembimbing
  •  Kata pengantar
  •  Abstrak
  •  Daftar isi
  •  Bab Pendahuluan
  •  Bab Telaah kepustakaan/kerangka teoretis
  •  Bab Metode penelitian
  •  Bab Pembahasan hasil penelitian
  •  Bab Simpulan dan rekomendasi
  •  Daftar pustaka
  •  Lampiran-lampiran
  •  Riwayat hidup

Tujuan Teks Karya Ilmiah

Tujuan penulisan karya ilmiah adalah untuk memublikasikan suatu ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Salah satu forum yang sering dijadikan tempat untuk tujuan itu adalah diskusi.

Selain itu, tujuan dari karya tulis ilmiah juga sebagai berikut.

  1. Untuk dapat melatih hasil penelitian dalam bentuk karya ilmiah yang sistematis dan metodologis atau ide tersurat.
  2. Para akademisi tidak hanya sebagai konsumen pengetahuan, tapi juga mampu menjadi produsen berfikir dan menulis di bidang ilmu pengetahuan.
  3. Untuk membuktikan pengetahuan serta potensi ilmiah yang dimiliki oleh penulis.
  4. Dapat melatih keterampilan dasar dalam melakukan penelitian.
  5. Karya ilmiah yang telah ditulis, diharapkan menjadi transformasi pengetahuan antara sekolah dan masyarakat.

Struktur Teks Karya Ilmiah 

Beberapa bagian penting dari struktur karya ilmiah diuraikan sebagai berikut.

1. Judul

Judul dalam karya ilmiah dirumuskan dalam satu frasa yang jelas dan lengkap. Judul mencerminkan hubungan antarvariabel. Istilah hubungan di sini tidak selalu mempunyai makna korelasional, kausalitas, ataupun determinatif. Judul juga mencerminkan dan konsistensi dengan ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, subjek penelitian, dan metode penelitian.

Penulisan judul dapat dilakukan dua cara. Pertama, dengan menggunakan huruf kapital semua kecuali pada anak judulnya; kedua, dengan menggunakan huruf kecil kecuali huruf-huruf pertamanya. Apabila cara yang kedua yang akan digunakan, maka kata-kata penggabung, seperti dengan dan tentang serta katakata depan seperti di, dari, dan ke huruf pertamanya tidak boleh menggunakan huruf kapital. Di akhir judul tidak boleh menggunakan tanda baca apa pun, termasuk titik ataupun koma.

2. Pendahuluan

Pada karya ilmiah formal, bagian pendahuluan mencakup latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat atau kegunaan penelitian. Selain itu, dapat pula dilengkapi dengan definisi operasional dan sistematika penulisan.

a. Latar Belakang Masalah

Uraian pada latar belakang masalah dimaksudkan untuk menjelaskan alasan timbulnya masalah dan pentingnya untuk dibahas, baik itu dari segi pengembangan ilmu, kemasyarakatan, maupun dalam kaitan dengan kehidupan pada umumnya.

b. Perumusan Masalah

Masalah adalah segala sesuatu yang dianggap perlu pemecahan oleh penulis, yang pada umumnya ditanyakan dalam bentuk pertanyaan mengapa, bagaimana. 

c. Tujuan (Penulisan Karya Ilmiah)

Tujuan merupakan pernyataan mengenai fokus pembahasan di dalam penulisan karya ilmiah tersebut; berdasarkan masalah yang telah dirumuskan. Dengan demikian, tujuan harus sesuai dengan masalah pada karya ilmiah itu.

d. Manfaat

Perlu diyakinkan pula kepada pembaca tentang manfaat atau kegunaan dari penulisan karya ilmiah. Misalnya untuk pengembangan suatu bidang ilmu ataupun untuk pihak atau lembaga-lembaga tertentu.

3. Kerangka Teoretis

Kerangka teoretis disebut juga kajian pustaka atau teori landasan. Tercakup pula di dalam bagian ini adalah kerangka pemikiran dan hipotesis. Di samping itu, dalam kerangka teoretis perlu dilakukan pengkajian terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan para penulis terdahulu. 

4. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian diartikan sebagai prosedur atau tahap-tahap penelitian, mulai dari persiapan, penentuan sumber data, pengolahan, sampai dengan pelaporannya.

Setiap penelitian mempunyai metode penelitian masing-masing, yang umumnya bergantung pada tujuan penelitian itu sendiri. Metode-metode penelitian yang dimaksud, misalnya, sebagai berikut.

a. Metode deskriptif, yakni metode penelitian yang bertujuan hanya menggambarkan fakta secara apa adanya, tanpa adanya perlakuan apa pun. Data yang dimaksud dapat berupa fakta yang bersifat kuantitatif (statistika) ataupun fakta kualitatif.

b. Metode eksperimen, yakni metode penelitian bertujuan untuk memperoleh gambaran atas suatu gejala setelah mendapatkan perlakuan.

c. Metode penelitian kelas, yakni metode penelitian dengan tujuan untuk memperbaiki persoalan-persoalan yang terjadi pada kelas tertentu, misalnya tentang motivasi belajar dan prestasi belajar peserta didik dalam kompetensi dasar tertentu.

5. Pembahasan

Bagian ini berisi paparan tentang isi pokok karya ilmiah, terkait dengan rumusan masalah/tujuan penulisan yang dikemukakan pada bab pendahuluan. Data yang diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara, dan sebagainya itu dibahas dengan berbagai sudut pandang; diperkuat oleh teori-teori yang telah dikemukakan sebelumnya.

6. Simpulan dan Saran

Simpulan merupakan pemaknaan kembali atau sebagai sintesis dari keseluruhan unsur penulisan karya ilmiah. Simpulan merupakan bagian dari simpul masalah (pendahuluan), kerangka teoretis yang tercakup di dalamnya, hipotesis, metodologi penelitian, dan temuan penelitian.

7. Daftar Pustaka

Daftar pustaka memuat semua kepustakaan yang digunakan sebagai landasan dalam karya ilmiah yang di dapat dari sumber tertulis, baik itu yang berupa buku, artikel jurnal, dokumen resmi, maupun sumber-sumber lain dari internet.

Cara menulis daftar pustaka berurutan secara alfabetis, tanpa menggunakan nomor urut. Susunan penulisan daftar pustaka: nama yang disusun di balik; tahun terbit; judul pustaka; kota terbit; dan penerbit.

Unsur Kebahasaan Teks Karya Ilmiah 

Adapun ciri-ciri kebahasaan karya ilmiah mengutip dari Jujun Suriasumantri adalah sebagai berikut:

  1. Penggunaan istilah keilmuan: penulis dalam karya ilmiah harus mempergunakan istilah-istilah keilmuan sebagai bukti penguasaan penulis terhadap ilmu tertentu yang tidak dikuasai penulis pada bidang ilmu yang lain.
  2. Penggunaan bahasa baku dalam ejaan, kata, kalimat, dan paragraf: penulis mempergunakan bahasa dengan mengikuti kaidah tatabahasa agar hasil tulisan tidak mengandung arti yang lain atau salah tafsir bagi pembaca.
  3. Reproduktif: maksud yang ditulis oleh penulis karya ilmiah dapat diterima dengan makna yang sama oleh pembaca.
  4. Bersifat Denotative: penulis dalam karya ilmiah menggunakan istilah atau kata yang hanya memiliki satu makna.
  5. Tidak ambigu: maksudnya tidak bermakna ganda karena penulis kurang menguasai materi atau kurang mampu menyusun kalimat dengan subjek dan predikat yang jelas.
  6. Tidak emotif: maksudnya tidak melibatkan aspek perasaan dari penulis karya ilmiah.
  7. Rasional: penulis harus menonjolkan keruntutan pikiran yang logis.

Langkah-Langkah Menulis Teks Karya Ilmiah

Untuk menulis karya ilmiah yang baik, langkah-langkah yang harus kita tempuh adalah sebagai berikut.

1. Menentukan topik

Langkah awal menulis sebuah karya ilmiah adalah menentukan topik. Baik itu berupa topik maupun rumusan masalah, hal-hal yang harus diperhatikan pada langkah ini adalah topik/masalah itu haruslah:

a. menarik perhatian penulis,

b. dikuasai penulis,

c. menarik dan aktual, serta

d. ruang lingkupnya terbatas.

2. Membuat kerangka tulisan

Langkah ini penting dilakukan untuk menjadikan tulisan kita tersusun secara lebih sistematis. Langkah ini juga sangat membantu di dalam penelusuran sumber-sumber yang diperlukan di dalam pengembangannya

3. Mengumpulkan bahan

Langkah ini sangat penting di dalam menyusun sebuah karya ilmiah. Bahan-bahan yang dimaksud dapat bersumber dari buku, jurnal ilmiah, surat kabar, internet, dan sumber-sumber lainnya. 

Adapun data itu sendiri dapat diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara, angket, dan teknik-teknik pengumpulan data lainnya.

4. Pengembangan kerangka menjadi teks yang utuh dan lengkap

Kerangka yang telah dibuat, kita kembangkan berdasarkan teori dan data yang telah dipersiapkan sebelumnya. Langkah pengembangan tersebut harus pula memperhatikan kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku pada penulisan karya ilmiah.

Contoh Teks Karya Ilmiah 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya sastra klasik merupakan karya sastra kultur dan etnik (daerah). Bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara sangatlah beruntung karena memiliki khazanah sastra klasik yang amat beragam dan kaya. Wilayah-wilayah kultur dan etnik itu masing-masing memiliki sastra kasik, yang semuanya memiliki sifatsifat yang khas. Karya sastra ini timbul dan berkembang pada zaman yang belum mengenal istilah demokrasi, HAM, industrialisasi, globalisasi, dan anasir-anasir modern lainnya. Sastra klasik sebagian besar berakar dari sikap hidup tradisional yang feodal. Hal yang wajar apabila kemudian muncul pertanyaan, nilai apa lagi yang masih dianggap relevan dan bermanfaat dari penelitian sastra klasik dalam konteks kehidupan yang serba modern seperti sekarang.

Dalam karya-karya klasik memang terkandung pemikiran-pemikiran yang dekaden, penuh tahayul, dan menidurkan. Hal itu sulit dimungkiri. Cerita-cerita masa lampau mengandung banyak unsur yang tidak relevan lagi dengan napas modernism maupun semangat demokratisasi. Karya dan kehidupan klasik (tradisional) sulit dipisahkan dari unsur feodalis dan mistisme. Namun demikian, hal lain yang tidak boleh terlupakan pula bahwa sastra klasik adalah catatan hidup dan kehidupan manusia masa lampau; sebagai bagian dari karya-karya kemanusiaan; itu artinya, karya-karya klasik pun tidak mungkin lepas dari nilainilai kemanusiaan yang universal.

Ujar Syariati (1994) bahwa masa lampau dan masa kini merupakan sebuah jurang. Antara keduanya memerlukan sebuah jembatan. Pertemuan antara keduanya sangatlah penting untuk membangun satu bentuk konvergensi kultural yang berkepribadian, tanpa harus kehilangan identitas dan esensi kebangsaannya. Penggalian terhadap sastra klasik diharapkan dapat memperoleh nilai pengalaman, perasaan, dan pemikiran esensial kemasyarakatan. Pemerolehan akan nilai-nilai tersebut, menurut Syariati (1994) sangat bermanfaat untuk menambah kearifan dan kebijakan hidup, baik di masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.

Penggalian-penggalian terhadap hal-hal di atas telah banyak dilakukan para filolog maupun ahli-ahli dari disiplin ilmu lainnya (antropolog, sosiolog, dan sebagainya). Hasilnya mereka mengakui bahwa karya-karya sastra klasik ternyata sarat nilai. Dalam karya-karya klasik banyak terkandung pesan-pesan moral, didaktis, dan adat istiadat (Djamaris, 1990;Fang, 1991; Danawidjaja, 1994). Temuan-temuan tersebut tentunya bukan sesuatu yang final. Yang selama ini dilakukan umumnya masih terpisah-pisah, hanya berfokus pada karya sastra itu sendiri. Jenis sastra Melayu Islam merupakan karya klasik yang belum mendapat perhatian sebagimana mestinya. Padahal karya-karya ini lebih dominan dalam khazanah perkembangan sastra Nusantara. Penulis menemukan kajian-kajian terhadap masalah ini baru sampai pada sajian-sajian makalah. Karena itulah, penulis berpendapat bahwa kajian yang lebih mendalam terhadap masalah ini amatlah penting untuk dilakukan.

Fokus dan Kerangka Teori

Di atas telah dikemukakan bahwa sastra klasik merupakan salah satu sumber kultural yang sangat penting. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Di samping itu, memang diakui bahwa dalam karya-karya klasik dijumpai pula unsur-unsur kehidupan tradisional yang dekaden, mistisme, yang tidak relevan dengan suasana modern dan semangat demokratisasi. Sastra klasik adalah fenomena multidimensional. Terliput di dalamnya persoalan-persoalan struktur, sejarah, dan kultur. Oleh sebab itu, untuk sampai pada pengertian yang sesungguhnya, penulis membatasinya pada persoalan kultur, dalam spesifikasi pandangan (nilai-nilai) moral.

Yang termasuk ke dalam karya klasik itu sendiri jumlahnya sangat banyak dan beragam. Dalam kaitannya dengan struktur kesejarahannya, dikenal adanya sastra klasik Hindu, sastra klasik Buddha, sastra klasik zaman peralihan, sastra klasik Islam. Karya sastra klasik yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi hanya pada sastra klasik dengan struktur Melayu dalam latar belakang keislaman. Pembatasan ini berdasarkan alasan bahwa sastra klasik masyarakat Melayu Islam merupakan khazanah sastra paling dominan di Nusantara (Djamaris, 1990: Fang, 1991).

Penelitian di atas memerlukan dukungan dari teori-teori sastra, teori moral, dan antropologi. Teori sastra diperlukan untuk mengkaji ciri-ciri sastra klasik dari masyarakat Melayu Islam, khususnya dikaitkan dengan konteks moral yang ada di dalamnya. Teori moral digunakan untuk mengidentifikasi konsep-konsep moral yang (mungkin) ditemukan dalam karya sastra melayu Islam itu, sedangkan teori antropologi diperlukan guna menganalisis struktur sosial budaya masyarakat Melayu Islam, dalam kaitannya dengan sistem moral yang tertuang dalam karya sastra yang ciptakan.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan struktur sastra Melayu Islam, yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema.

2. Mendeskripsikan kategori-kategori moral yang tertuang dalam karya sastra Melayu Islam.

3. Merumuskan karakteristik umum dari setiap kategori moral yang terdapat dalam masyarakat Melayu Islam.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Sastra

Penjelasan tentang “Apa itu sastra?”, dapat dikemukakan berdasarkan berbagai sudut pandang. Dalam kajian ini, penjelasan akan dikemukakan seperlunya, sesuai dengan tujuan untuk memahami kedudukan sastra dalam kaitannya dengan ajaran keislaman. Dalam memahami hakikat sastra, paling tidak ada dua pandangan yang selama ini berkembang. Pertama, pandangan Platonis, yang beranggapan bahwa karena sifatnya tiruan, maka sastra itu kurang bernilai dibandingkan dengan kenyataannya itu sendiri. Lebih dari itu, menurut Plato bahwa para seniman hanyalah menonjolkan sifat-sifat rendahan manusia, yang emosional, tidak pada segi rasionalitas, yang dianggapnya sebagai unsur kemanusiaan yang paling mulia dan luhur.

Sehubungan dengan keberatan-keberatan dari Plato, Aristoteles menanggapinya sebagai berikut. Bahwa sastrawan tidak seperti apa yang dikatakan Plato, yang begitu saja menirukan atau menyajikan kembali peristiwa atau keadaan tertentu yang kebetulan dicatat atau diselidikinya. Namun, ia mengolahnya sedemikian rupa sehingga ia menampilkan unsur-unsurnya yang umum, di samping yang khas. Apa yang merupakan ciri khas dalam sastra, adalah sifat rekaannya yang sangat erat dengan bahasa. Dalam karya sastra, setiap kata, setiap tanda, betapapun tampak remehnya tanda itu, misalnya titik dan koma, tetapi ia memiliki fungsi dan makna tersendiri; tanda-tanda itu tidak ada yang tidak terpakai, semuanya berfungsi sebagai penyandang bermakna.

…..

(Sumber: “Nilai-nilai Moral dalam Karya Sastra Melayu Klasik Islam”, Kosasih)

Demikianlah materi teks karya ilmiah kelas 11, semoga bermanfaat!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like