Mengapa Terjadi Konflik Sosial?

Konflik sosial adalah pertentangan yang terjadi antar dua
atau beberapa pihak yang terjadi di tengah masyarakat. Pertentangan ini menjadi
gejolak yang dapat memberikan pengaruh terhadap keseimbangan sosial.

Hari ini kita bisa menyaksikan, betapa banyak konflik sosial
terjadi di masyarakat. Baik antara individu dengan sesama individu, individu
dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok yang lain.

Lantas, mengapa konflik sosial ini dapat terjadi?

Pertama, manusia tercipta dengan keragaman

Keragaman manusia dengan latar belakang yang menyertainya
sesungguhnya bisa menjadi potensi kebaikan, namun bisa juga menjadi potensi
konflik. Hal ini sangat bergantung dari bagaimana negara mengelola
masyarakatnya yang beragam.
Perbedaan suku, ras, klan, keturunan dan sebagainya, jika
tak mampu dikelola dengan baik memang akan menimbulkan masalah. Banyak kita
saksikan bagaimana konflik sosial terjadi dengan latar belakang masalah
perbedaan seperti itu.
Salah satu yang sering berulang adalah konflik akibat
perbedaan ras yang tak bisa diatur dengan baik. Sehingga salah satu ras merasa
berhak untuk bersikap lebih superior dan semena-mena terhadap ras yang lain. Sehingga
terjadi rasisme yang menimbulkan konflik.
Konflik sosial dengan motif semacam rasisme ini tak akan
terjadi jika negara mengelola masyarakatnya dengan cara yang baik dan benar.

Kedua, manusia memiliki beragam kepentingan

Manusia sesungguhnya hidup dengan latar belakang kehidupan
yang berbeda-beda.  Sehingga, mereka
dimungkinkan memiliki kepentingan yang berbeda dalam kehidupannya.
Konflik kepentingan ini bisa terjadi dalam berbagai skala
kehidupan masyarakat mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dilingkungan
keluarga, suami dan istri bisa berkonflik jika tak mampu mengelola perbedaan
dengan kepentingan dengan baik.
Dilingkungan antar tetangga juga demikian. Jika kepala RT
tidak mampu menjaga kerukunan antar tetangga, masing-masing keluarga yang
berbeda kepentingannya juga bisa berkonflik. Begitu juga dalam level-level
struktur kehidupan masyarakat yang lebih besar.
Kepentingan yang dimaksud ini biasanya adalah kepentingan
ekonomi, alias kepentingan yang berhubungan dengan uang. Tak heran jika kita
menyaksikan banyak terjadi konflik yang didasarkan uang. Membahas uang akhirnya
menjadi perkara yang sensitif jika dibahas dalam beberapa konteks.

Ketiga, suburnya paham individualisme

Konflik sosial juga bisa marak terjadi ketika merebak cara
berpikir individualism. Yakni cara berpikir yang menganggap bahwa setiap
individu bebas melakukan berbagai macam sesuai dengan keinginannya. Sehingga orang
yang berpikir semacam ini menjadi cuek terhadap berbagai hal yang ada
disekitarnya.
Dalam tataran yang tak terkendali, mereka yang berpikir
individualis hanya berpikir untuk mewujudkan berbagai kepentingan dan
keinginannnya. Dalam saat yang sama, mereka kurang peduli dampak yang
ditimbulkan di lingkungannya.
Padahal, bukan tak mungkin orang-orang disekitar itu ada
yang terganggu dan akhirnya tersulut untuk berkonflik.
Dalam lingkungan bertetangga, jika ada satu rumah dengan
individualismenya rutin menyalakan musik dengan soundsystem besar hingga larut
malam, pasti akan mengganggu tetangga lainnya. Tetangga itu pasti ada yang marah-marah
dan akhirnya berkonflik.
Maka seyogyanya, cara berpikir individualis yang tidak
mempertimbangkan urusan orang lain itu ditinggalkan dengan cara diberi
pemahaman yang benar. Bahwa manusia harus memahami kedudukannya sebagai bagian
dari masyarakat.

Keempat, sistem negara yang menyuburkan konflik

Konflik sosial juga bisa subur manakala negara menerapkan
sistem dan aturan-aturan yang menyuburkan konflik. Bagaimana sistem atau aturan
yang dimaksud?
Contohnya, jika negara menerapkan sistem yang memiliki
kecendrungan untuk membebaskan manusia dalam melakukan berbagai aktivitas. Dalam
berpendapat, dalam bertingkah laku, hingga dalam berekonomi.
Ketika negara mendorong warganya untuk bebas, maka
masing-masing individu yang ada dalam negara tersebut akhirnya merasa terjamin
untuk melakukan apapun demi mewujudkan keinginan dan kepentingannya.
Mungkin hal ini baik ditinjau dari sebagian sisi, namun dari
sisi yang lain sistem semacam ini justru menyuburkan konflik sosial.
Jika kita melihat Amerika Serikat misalnya, sebagai negara
yang mengadopsi sistem kenegaraan yang sangat bebas, kita bisa menyaksikan
bahwa konflik sosial di negara Amerika Serikat sangatlah marak dan sulit
terkendali.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like