Musyawarah adalah pembicaraan yang melibatkan dua atau lebih pihak yang membahas mengenai suatu topik tertentu untuk mencapai suatu kesepakatan yang di terima oleh seluruh pihak. Istilah ini serupa dengan diskusi atau perundingan.
Kegiatan yang satu ini nampaknya mudah, namun sebenarnya tidak demikian. Faktanya, ada banyak kendala yang menjadikan orang-orang yang terlibat dalam aktivitas ini dapat bersepakat. Terutama, soal isi kepala yang pastinya berbeda antar manusia.
Meskipun demikian, sulit bukan berarti tidak bisa terwujud. Ada beberapa cara yang dapat diupayakan agar ujung dari musywarah menjadi mufakat. Berikut penjelasannya.
  1. Peserta yang terlibat memiliki niat atau tujuan yang sama yakni mencapai mufakat.
  2. Bahasa yang disampaikan santun dalam pemilihan diksi dan penggunaan intonasi.
  3. Setiap pendapat yang dikeluarkan memiliki argumen atau dasar-dasar yang logis dan diterima akal.
  4. Siapa saja yang terlibat diskusi bermusyawarah tidak untuk memaksakan kehendak pribadinya.
  5. Tidak saling menyerang personal, misalnya menghina fisik, latar belakang keluarga, dan semisalnya.
  6. Memastikan adanya moderator atau penengah yang mengatur jalannya musyawarah.
  7. Topiknya dibatasi agar pembahasan serta pendapat yang dikeluarkan tidak melebar kemana-mana.
  8. Tidak saling memotong pembicaraan. Semua peserta harus menyimak secara utuh pembicaraan peserta lainnya untuk menghindari miskomunikasi dan mispersepsi.
  9. Tidak meremehkan lawan bicara dengan menertawainya atau menunjukan gimmick yang memancing emosi.

Mengapa cara-cara di atas harus ditempuh?

Latar belakang, pendidikan keluarga, pengalaman hidup, buku yang dibaca, guru yang berlainan, semuanya telah membentuk perbedaan diantara setiap umat manusia. Baik dalam skala yang luas, maupun sempit. Jangankan antar suku, bangsa, atau agama. Diantara adik serta kakak yang satu keluarga juga yang namanya perbedaan itu pasti ada saja.
Karena itu, pasti untuk bermusyawarah itu tidaklah mudah. Wajar saja ada ‘perang pendapat’. Itu bukan sesuatu yang buruk.
Kita sebagai manusia boleh saja berusaha mencoba untuk membuat orang lain memiliki pendapat yang sama. Begitu juga orang lain. Hanya saja, yang mesti diperhatikan secara baik-baik adalah bagaimana prosesnya?
Nah, 9 poin diatas mencoba menjelaskan hal-hal yang harus kalian tempuh dan jadikan rambu-rambu. Itu perlu dilakukan agar setelah musywarah berlangsung tidak ada luka yang membekas. Sehingga antar pesertanya menjadi bermusuhan satu dengan lainnya.

Dampak Jika Sembarangan Dilakukan

Di era sosial media, mendiskusikan suatu pembahasan bisa dimana saja. Bukan dalam forum resmi, tanpa ada moderator, dan memungkinkan dilakukan orang tak bertanggung jawab. Alias mereka yang anonym dan bersembunyi dibalik identitas yang tidak jelas.
Mengikuti silang pendapat semacam itu memang rentan untuk melanggar cara-cara yang baik. Bahasanya bisa kasar, saling menyerang pribadi, argumennya asal-asalan, dan sebagainya. Itu semua pasti tidak akan menghasilkan kebaikan sama sekali. Alih-alih ada manfaatnya, yang terjadi malah gesekan disana-sini.
Bukan berarti kalian tidak boleh membahas berbagai topik disosial media. Boleh saja dengan tetap memerhatikan adab-adabnya. Adapun jika lawan bicaranya sudah sembarangan dalam menyampaikan isi kepalanya dan kontennya gak nyambung, sebaiknya tidak perlu ditanggapi. Lebih bagus sih ajak ketemu langsung aja dan bicara baik-baik.**

Baca juga: Betapa Bermanfaatnya Film Dari Jendela SMP

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like