Mengapa Faktor Ekonomi Menjadi Penghambat Mobilitas Sosial?

Sebelum menjawab mengapa faktor ekonomi menjadi salah satu hal yang menghambat mobilitas sosial, perlu kita sepakati terlebih dahulu mengapa apa yang dimaksud mobilita sosial?

Secara sederhana, mobilitas sosial adalah perpindahan kedudukan seseorang  atau kelompok dari satu lapisan masyarakat ke lapisan masyarakat yang lain.
Dalam konteks pergerakannya, ada yang mobilitas horizontal atau menyamping dan mobilitas yang vertifikal atau atas bawah. Mobilitas horizontal adalah jenis mobilitas tak mengubah derajat seseorang dengan tatanan struktur sosial.
Sedangkan mobilitas vertikal adalah perubahan yang mengubah derajat. Yang tadinya miskin menjadi kaya, bawahan menjadi atasan, guru jadi kepala sekolah, dan sebagainya.
Umumnya, manusia memiliki hasrat untuk menjadi lebih bermartabat dari waktu ke waktu. Makanya kerapkali manusia berusaha melakukan mobilitas sosial yang bersifat vertikal.
Namun, dalam proses merangkak menuju derajat yang lebih tinggi, ada faktor-faktor yang menghambat upaya mobilitas tersebut. Diantara faktor yang krusial adalah faktor ekonomi. Inilah yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini.
Setidaknya, ada dua alasan yang dapat dikemukakan sebagai jawaban, mengapa faktor ekonomi menjadi penghambat mobilitas sosial semacam ini. Berikut ulasannya.

Pertama, kehidupan saat ini bercorak ‘materialisme’

Kehidupan saat ini mengedepankan memiliki corak materialisme. Sangat jarang orang mau sukarela membantu. Dalam memenuhi seluruh kebutuhannya,manusia harus membayar. Uang adalah wujud materi yang dimaksud.
Seorang anak miskin dari keluarga yang ayah ibunya lulusan SD, sulit untuk bisa menaikkan derajatnya dengan menjadi seorang sarjana. Meski ada kesempatan, tapi kesempatannya kecil dan membutuhkan upaya ekstra untuk mengatasi hambatan tersebut.
Berbeda dengan anak dari keluarga sarjana yang secara penghasilan lebih sejahtera. Kemudahan yang diberikan orang tuanya membuat faktor ekonomi tak jadi penghambatnya.
Hal ini juga berlaku dalam melakukan upaya scale up di dunia bisnis. Seorang pedagang kecil, akan terhambat menjadi seorang korporat raksasa jika modalnya mentok di beberapa ratus ribu atau sejuta saja.
Berbeda dengan seorang yang keturunan korporat, anaknya dengan mudah bisa ia berikan modal milyaran untuk mengembangkan bisnis. Dengan modal yang besar itu, ia lebih mudah menguasai pasar dan mendapatkan keuntungan lebih besar.
Ada ungkapan, uang bukanlah segalanya namun dengan uang kamu bisa mudah meraih segalanya. Hal ini sesungguhnya berlaku adanya akibat kultur hidup yang materialis.
Bahkan, disebagian tempat, untuk naik jabatan dari satu posisi ke posisi lain dilingkungan kerja juga ditarik uang. Tak berbeda ketika ada suatu usaha yang hendak mendapatkan proyek. Biasanya, karena banyak orang berpikir materialis, ada juga uang harus dibayar.
Namun tentu saja, sulit bukan berarti tak bisa. Ada memang contoh-contoh orang yang terlahir pada struktur sosial rendah namun kini melesat tinggi. Namun harus diakui, jumlahnya tak sebanyak yang terus berkutat pada derajat yang sama. Faktor ekonomi seringkali menjadi penyebabnya.

Kedua, pengelolaan negara  berbasis pada kapitalisme

Kapitalisme adalah konsep ekonomi yang membuat para kapitalis memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan. Kapitalis adalah orang yang memiliki modal dan faktor produksi yang besar.
Adanya Kapitalis dipicu salah satunya oleh teori pasar bebas yang diterapkan negara. Dimana negara memberikan keleluasaan bagi manusia untuk saling berjibaku melakukan kegiatan ekonomi di berbagai bidang kehidupan.
Pola  kehidupan ekonomi yang semacam ini memunculkan istilah siapa kuat, ia yang menang. Mereka yang terlahir dengan kemampuan fisik baik, keluarga kaya, dan sebagainya tentu saja memiliki keuntungan ketimbang mereka yang lahir dalam kondisi cacat fisik dan miskin.
Dengan modal yang lebih besar ini, tentu pada akhirnya sosok yang bermodal kuat akan menang. Bahkan, jika kebebasan dalam berekonomi itu terus dilaksanakan, orang-orang ini kekayaannya menjadi lebih besar dan tak terkendali.
Hingga akhirnya, sektor-sektor yang mestinya dikelola oleh negara  karena menyangkut hajat hidup orang banyak, justru dikuasai segelintir orang.
Ketika Kapitalis telah menguasai seluruh sektor, maka seluruh sektor akan dikomersialiasi. Semuanya akan dijadikan wadah untuk berdagang. Akhirnya, untuk mendapatkan akses akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan sebagainya, uang menjadi nomor satu.
Maka kehidupan yang dibawah akan sulit terangkat. Semua akan serba harus bayar. Semua jadi ada harganya. Pada akhirnya, kebutuhan hidup orang-orang yang ada diderajat bawah menjadi sulit.
Lihatlah, kini orang membayar mahal untuk air, padahal dulu gratis. Minyak juga mahal, gas, juga listrik. Adanya campur tangan para kapitalis dalam sektor tersebut menjadikan sektor sektor tersebut dijadikan tempat untuk mencari untung.
Dengan gaji yang terbatas dan habis untuk kebutuhan-kebutuhan semacam itu, akhirnya banyak orangtua yang ingin menaikan derajatnya dengan cara menguliahkan anak kesulitan. Gajinya pas-pasan untuk membiayai kebutuhan hidup anak-anaknya.**

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like