Hukum dibuat untuk mengatur manusia, sehingga manusia memiliki batasan dan tak bertindak semena-mena dalam kehidupan. Tentu saja, ditinjau dari tujuannya yang bertujuan untuk mengatur, maka hukum pada hakikatnya dibuat agar manusia hidupnya teratur. Bukan untuk mengekang manusia.

Namun, pada faktanya, meski hukum itu memiliki tujuan yang mungkin baik, pelanggaran terhadap hukum yang sudah diberlakukan kerap terjadi di kehidupan manusia. Banyak manusia yang secara sengaja menabrak hukum yang sudah diberlakukan di suatu negara hukum.

Nah, yang jadi pertanyaan, mengapa itu bisa terjadi?

Untuk menjawab ini, setidaknya ada beberapa alasan yang bisa dikemukan:

Pertama, pengawasan lemah

Ketika suatu hukum sudah ditetapkan oleh negara, maka negara sebagai lembaga yang menerapkan hukum itu idealnya melakukan pengawasan untuk senantiasa memastikan hukum itu dapat langgeng ditegakkan.
Nah, caranya adalah negara melakukan pengawasan dengan istrumen dimilikinya. Misalnya, dengan polisi. Sebagai alat negara yang bertugas menjaga keamanan dalam negeri, idealnya polisi senantiasa menutup peluang atau kesempatan masyarakat dalam melakukan pelanggaran.
Ketika pengawasan lemah, maka potensi pelangaran hukum akan meningkat. Contoh saja di jalan raya. Jika ada polisi yang berjaga, maka biasanya pengguna kendaraan bermotor akan lebih tertib. Namun ketika tidak ada polisi, pengguna kendaraan motor akan cenderung menyepelekan.


Kedua, sanksi yang tidak menimbulkan efek jera

Hal lain yang membuat orang berani untuk melanggar hukum, adalah sanksinya yang dianggap bukan sesuatu yang berat untuk dijalani. Bahkan, sanksinya dianggap sesuatu yang biasa saja. Dengan kata lain, tidak menimbulkan efek jera.
Pejabat sulit untuk kapok korupsi jika hukumannya hanya beberapa tahun dengan fasilitas penjara yang nyatanya seperti di kamar pribadi. Apalagi jika uang yang harus dikembalikannya tidak sepadan.
Begitu juga dengan pengedar sabu yang sulit kapok jika nyatanya di dalam penjara mereka masih bisa melakukan transaksi jual beli sabu. Sulit jika keadaannya seperti ini.


Ketiga, tekanan hidup tinggi

Tekanan  hidup yang dirasakan oleh masyarakat juga berpotensi untuk menjadi penyebab dari terjadinya pelanggaran hukum. Ketika harga-harga naik, biaya hidup melambung, pengangguran meningka, dan sebagainya, maka pelanggaran hukum juga berpotensi untuk merebak.
Tekanan hidup bisa membuat orang menjadi buta mata dan buta hati hingga akhirnya rela menghalalkan segala cara untuk dapat lepas dari jeratan tekanan yang menderanya.
Kita sangat mudah menyaksikan, banyak penjahat yang motifnya adalah kemiskinan. Begitu juga yang terlibat dalam praktek pelacuran dan sebagainya. Ketidakmampuan untuk bersabar telah membuat mereka terpaksa untuk melakukan hal-hal yang mereka sadari merupakan suatu pelanggaran.

Keempat, lemahnya penegak hukum

Penegak hukum, idealnya bersikap adil tanpa pandang bulu. Mereka hanya memutuskan sesuai dengan aturan dan bersifat independen. Keputusannya tidak boleh lemah dan dibeli dengan sekoper uang.
Jika kondisi penegak hukum tidak demikian, maka yang terjadi martabat lembaga penegak hukum itu akan jatuh. Terutama dikalangan orang-orang berkuasa yang dengan uangnya mereka bisa membeli hukum.
Orang-orang dengan uangnya tentu akan merasa bahwa mereka tak masalah jika melanggar hukum. Toh dikepalanya, mereka berpikir bisa ‘membeli’ para penegak hukum jika masalah mereka diperkarakan.

Kelima, ketidakadilan sosial

Ketidak adilan yang dilakukan oleh negara ketika mengatur masyarakatnya juga bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan adanya pelanggaran hukum.
Ketika negara melakukan ketidak adilan terhadap satu atau sebagian golongan di masyarakat, maka golongan itu akan merasa tersakiti dan mengambil sikap untuk memusuhi negara. Akhirnya, mereka kemudian bisa melakukan berbagai gerakan yang melanggar hukum sebagai ekspresi menghadapi sikap negara.
Maka dari itu, negara semestinya berlaku adil kepada seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Tidak memihak pada salah satu kelompok tertentu. Hukum harus ditegakkkan secara merata keseluruh lapisan tanpa pandang bulu.

Keenam, produk hukum tidak sesuai fitrah dan karakter alamiah manusia

Hukum juga mungkin dilanggar manakala hukum tersebut secara konseptual bertentangan dengan fitrah manusia. Sehingga manusia menjadi kesulitan untuk menjalankan hukum tersebut.
Padahal mestinya, jika hukum itu diberlakukan oleh manusia, hukum tersebut mestinya dibuat menyesuaikan dengan karakter manusia.
Disinilah sebetulnya pentingnya peran agama dalam penetapan suatu hukum. Hukum ciptaan Sang Maha Kuasa yang menciptakan manusia tentu saja dibuat tanpa kemungkinan cacat. Hal ini karena Sang Maha Kuasa adalah sosok yang paling memahami manusia yang notabene adalah ciptaannya.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like