Borobudur sebagai Kerajaan Sulaiman (?)

Benarkah situs Borobudur adalah tinggalan Nabi Sulaiman? Tak lama ini ada sebuah penemuan menarik terkait sejarah Borobudur. Selama ini kita mengenal bahwa Borobudur adalah bangunan Budhis yang dibangun pada masa dinasti Syailendra abad ke-7 M. Kini oleh KH. Fahmi Basya Borobudur diklaim peninggalan Nabi Sulaiman (hidup sekitar 1000 SM – 900 SM). Uniknya, dosen Matematika di UIN Jakarta itu mengemukakan pendapatnya dengan argumen ayat-ayat al-Quran.  Namanya Fahmi Basya dan bukunya terkenal tentang Borobudur dan Nabi Sulaiman.

Situs Wikipedia menyebutkan bahwa Candi Borobudur adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang didirikan oleh penganut agama Budha Mahanaya pada masa Mataram Kuno dibawah pemerintahan Dinasti Syailendra. Berdasarkan tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup dari Candi Borobudur yang berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal dari huruf pallawa, diperkirakan tahun berdirinya candi tersebut pada tahun 850 Masehi.

Candi Borobudur tidak asal bangun, akan tetapi menggunakan teknologi tinggi, arsitektur dan cita rasa seni begitu menawan. Ia lebih besar daripada Taj Mahal India, Eiffel Prancis atau Angkor Vat di Kamboja. Ia dibangun dengan menggunakan +/- 55.000 m3 batu setara dengan 2 juta bongkah batu. Jumlah relief sebanyak 1460 relief, jika dipanjangkan sekitar 3 kilometer. Tinggi bangunan ini sampai kepuncak adalah 42m, dengan lebar dasar 123 m. Umur Candi Borobudur ini telah mencapai 12 abad.

Ahli sejarah menyebutkan beberapa misteri yang menakjubkan di Borobudur pada angka-angkanya. Pertama, Patung Budha (Stupa) ada 72 buah, secara matematis  = 23 x 32 x 7. Jika 72 stupa ditambah 1 stupa induk = 73. Jumlah ini sama dengan jumlah hari pasaran JAWA (Pahing  Pon, Wage, Kliwon dan Legi). Jika 73 x 5 = 365 hari.  Kedua, jumlah reliefnya  ada 1460 merupakan hasil kali 4 x 365 artinya menunjukkan pengalaman hidup Sang Budha di dunia selama 4 tahun berturuit turut.[1]

Menurut KH. Fahmi Basya di Borobudur memang terdapat beberapa simbol dalam relief, yang mengesankan dan identik dengan kisah Sulaiman dan Ratu Saba, sebagaimana keterangan Alquran. Sehingga dari situlah beliau berani mengatakan bahwa Borobudur merupakan peninggalan Nabiyullah Sulaiman. Diantara alsan dan bukti-bukti lainnya sebagaimana berikut:

No Teori dan Keterangan KH Fahmi Basya Dalil al-Quran
1. Pada relief terdapat gambar tabut, yaitu sebuah kotak atau peti yang berisi warisan Nabi Daud AS kepada Nabi Sulaiman berisi kitab Zabur dan Taurat. Al-Baqarah [2]: 248
2. Adanya patung yang belum selesai. Ini merupakan pekerjaan jin yang tidak dirampungkan karena Sulaiman telah wafat. Saba [34]: 14
3. Candi Prambanan sebagai salah satu bukti hasil kerja jin yang diperintahkan membangun gedung yang tinggi dan membuat patung-patung. Saba [34]: 13
4. Terdapat relief yang menceritakan Nabi Sulaiman berbicara dengan burung-burung dan hewan-hewan. An-Naml [27]: 20-22
5. Kisah Ratu Bilqis  dan rakyatnya yang menyembah matahari dan bersujud kepada sesama manusia. An-Naml [27]: 22
6. Saba yaitu yakni Wonosobo. Dalam al-Quran, wilayah Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak dan tanahnya subur. Saba [34]: 15
7. Ditemukannya buah ‘maja’ yang pahit. Ketika banjir besar (Sail al-Arim) menimpa wilayah Saba, pepohonan yang ada di sekitarnya menjadi pahit sebagai azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya. Saba [34]: 16
8. Nama Nabi Sulaiman menunjukkan nama Jawa. Diawali dengan ‘su’ yang merupakan nama-nama Jawa. Dan, Sulaiman adalah satu-satunya nabi dan rasul yang 25 orang, yang namanya berawalan ‘Su’.
9. Sulaiman berkirim surat kepada Ratu Saba melalui burung Hud-hud.   Menurut Fahmi, surat itu ditulis di atas pelat emas sebagai bentuk kekayaan Nabi Sulaiman. Surat itu ditemukan di sebuah kolam di Candi Ratu Boko.  An-Naml [27]: 28
10. Bangunan yang tinggal sedikit (Sidrin qalil).  Bangunan yang tinggal sedikit itu adalah wilayah Candi Ratu Boko. Saba [34]: 16
11 Terjadinya angin Muson yang bertiup dari Asia dan Australia Saba [34]: 12
12 Kisah istana yang hilang atau dipindahkan, dialog Ratu Bilqis dengan para pembesarnya ketika menerima surat Sulaiman An-Naml [27]: 32
13 Nama Kabupaten Sleman, Kecamatan Salaman, Desa Salam, dan lainnya. Juga Wonosobo, wono adalah hutan dan Sobo berarti Saba.

Kelemahan Teori Borobudur Sulaiman

Dalam diskusi yang diadakan oleh mahasiswa Ma’had Aly dan IKAHA (terhimpun dalam komunitas PASTI) bersama KH. A Mustain Syafi’i da 24 Oktober 2011 memang tidak dikhususkan membahas teori KH. Fahmi Basya. Akan tetapi pembahasan yang bertema “Sejarah dan Kisah dalam al-Quran” itu sedikit menyinggung teori ahli matematika Islam itu terkait Borobudur.

Semua yakin dan nyata bahwa al-Quran menyebut nama negeri Saba’. Namun dimanakah negeri subur itu berada? Semua mufassirin terdahulu menyebutkan bahwa Saba’ di Yaman Selatan sedangkan kerajaan Nabi Sulaiman di Palestina, seperti Abu Ja’far al-Thabari dan Ibnu Katsir. Bisa dibayangkan jika Saba’ diartikan Wonosobo, para mukhatab se-jazirah Arab akan heran dimana itu Wonosobo. Bisa jadi akan mengalami disconnec antara wahyu dan mukhatab. Ini dalam tinjauan ilmu komunikasi.

Situs sejarah kerajaan Nabi Sulaiman di Palestina dan Sidr Qalil kerajaan Ratu Bilqis di Yaman versi mufassir Timur Tengah dan dan ilmuan Barat

Situs sejarah kerajaan Nabi Sulaiman di Sleman Yogyakarta dan Sidr Qalil kerajaan Ratu Boko di Wonosobo versi KH. Fahmi Basya

Jarak kerajaan Saba’ di Yaman dengan kerajaan Nabi Sulaiman di Palestina itu 1.500 Km lebih. Perjalanan itu ditempuh burung Hud-Hud dengan membawa surat yang sudah didesaign dengan teknologi kertas dan pena yang bagus. Jika sekarang memang tampaknya mustahil karena jauhnya jarak yang ditempuh. Namun dulu bisa saja terjadi, ukuran burung yang besar dan memiliki energi super, WalLahu a’lam.

Peta yang menunjukkan kerajaan Ratu Bilqis di Yaman Selatan dekat Ma’rib dan kerajaan Nabi Sulaiman di Palestina daerah al-Quds

Sedangkan Arsy yang dimaksud dalam bahasa Arab itu cendrung bermakna kursi besar bukan Stupa. Seperti dalam kisah Imam Ibnu Taimiyah yang ditanya tentang tafsir al-Quran “Arrahmân ‘alal arsy stawâ?” maka dijawab “Ya seperti saya seperti ini duduk di kursi ini,” ucap beliau sembari menggoyangkan tubuhnya di atas kursi besar. Nah di sini tampaknya ada yang berbeda dalam penafsiran KH. Fahmi Basya, beliau mengatakan arsy Bilqis itu adalah stupa di Kerajaan Boko di Wonosobo bahkan terdapat sisa-sisanya yang terbut dari batu.

Seperti pendekatan tafsir al-Quran yang dilakukan Agus Mustofa. Beliau memakai fisika, bagus memang. Akan tetapi jika ilmu, teknologi, dunia dijadikan rumusan tafsir pasti beresiko.

Seperti yang beliau dalam bukunya “Ternyata Akherat Tidak Kekal”. Buku yang berjumlah 200 halaman lebih sedangkan yang berbicara fokus tentang judul hanya beberapa lembar halaman saja tentang ayat ”Mâ dâmatis samâwâti wal ardl”. Kelemahan beliau dalam penafsirannya, bahwa menghitung akherat dengan menggunakan piranti-piranti planet padahal akherat bukan memakai waktu lagi melaikan abqa. Mulanya disebut al-âkhirah karena unlimited maka ukuran waktu tidak mampu menjangkau.

Jika kita kaji lagi tentang kemegahan dan kejayaan kerajaan masa lalu dengan teknologi sekarang maka tidak akan puas. Seperti bagaimana meletakkan batu paling pucuk pada Piramid Mesir. Bisa saja dengan ramuan seperti film Popeye yang lalu memiliki kemampuan super. Dan perlu diingat pada waktu itu apalagi masa Nabi Sulaiman As bahwa jin dan makhlus halus lainnya bisa diperintah. Bisa dipastikan kejaiban tempo dulu pasti memakai supra energi dan supra rasional.

Jin ada yang ditugasi mencari mutiara di dasar laut, Wa minas syayâtina man yaghussûna lahû. Ada juga yang ditugasi menjadi arsitek. Ya’malûna lahû ma yasyâ’ min mahârib wa tamâtsîl[2] wa jifânin kal jawâb wa qudûrir râsiyât. Ada yang bertugas membuat kubah, patung, nampan besar dan guci-guci.

Untuk membandingkan—bukan membantah—teori KH. Fahmi yang kami tuturkan di atas hanya yang kami rangkum dari hasil diskusi. Sedangkan sangkalan dan kritik tajam yang banyak tersebar di Internet tidak kami muat. Seperti ada yang mengatakan kelemanhan teori beliau yang mengatakan bahwa Ratu Boko itu Ratu Bilqis padahal Ratu Boko adalah pria (Prabu Boko), tentang tahun berdirinya Borobudur sebagaimana yang tertera dalam buku sejarah Nasional yaitu abad ke-8 M atau 1.200 tahun silam sedangkan Nabi Sulaiman hidup pada abad ke-9 SM (989-931 SM) atau sekitar 3.000 tahun yang lalu. WaLlahu a’lam

Epilog

Demikian hasil diskusi yang kami lakukan. Makalah ini sekedar pembuka kepada para cendikiawan muda khususnya kepada para kaum pesantren. Bahwa di luar sana terdapat banyak penafsiran ayat terhadap fenomena-fenomena klasik maupun modern. Mereka yang bukan ahlinya dengan mudah menghasilkan sebuah penafsiran yang bisa saja benar dan tidak menutup kemungkinan salah. Maka sebagai ahli agama, sudah sepantasnya para santri dan ustadz turut aktif menyumbangkan pemikiran dan kearifannya kepada publik, agar tidak terjadi kekosongan ilmiah dalam lingkup peradaban manusia sekarang ini.

Makalah ini juga me-review tentang kaidah-kaidah qishah dalam perspektif  ulum al-Quran. Bagi yang telah mempelajarinya maka akan bisa mengingat kembali dan bagi yang baru mengetahuinya semoga dapat terangsang untuk memperdalam keilmuan tersebut. Semoga bermanfaat. Amin

WalLahu A’lam bis Shawab

*Makalah ini hasil diskusi komunitas PASTI bersama KH. A. Musta’in Syafi’i pada 24 Oktober 2011 di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang


[1] Posted 27 Februari 2009 by teguhhariawan in ARKEOLOGI & SEJARAH.

[2] Dalam lughat timtsâl itu seni dan shanam itu buat disembah.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like